Pertumbuhan Kredit 9,69% Dukung Ekonomi Indonesia Stabil
Jurnal News - BANK Indonesia (BI) menyatakan bahwa sistem keuangan Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat dan stabil di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi dan fragmentasi ekonomi dunia yang semakin kompleks.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa ketahanan perbankan dan industri keuangan terjaga. "Likuiditas memadai dan ruang penyaluran kredit terbuka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 28 Februari 2026.
Dia mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,69 persen secara tahunan (year on year /yoy) pada Desember 2025, turut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11 persen (yoy) sepanjang 2025. Penyaluran kredit tersebut terutama mengalir ke sektor-sektor prioritas pemerintah.
Menurut Destry, peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi sangatlah terbuka. Hal ini didukung oleh ketersediaan likuiditas perbankan yang cukup memadai.
Pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp 2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia, dan dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi.
Bank Indonesia pun mengimbau perbankan untuk terus menyesuaikan special rate guna mendorong penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat, sehingga intermediasi berjalan semakin kuat. Ke depan, intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen (yoy).
Destry turut menekankan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia pun telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking).
Tujuannya, memastikan kecukupan likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah. Hingga minggu pertama Februari 2026, kata dia, perbankan telah memperoleh insentif sebesar Rp 427,5 triliun.




