Ancaman Kejahatan Digital Terhadap Anak dan Remaja
Jurnal News - Iptek
Denpasar
Oleh - Ida Bagus Ngurah Tri Pramana,
Editor - Ni Putu Widyawati
RRI.CO.ID, Denpasar - Dunia digital bagi anak dan remaja ibarat sebuah zona nyaman. Tempat impian yang selalu terang, penuh peluang untuk belajar, bermain, dan menemukan teman baru. Namun di balik cahaya layar itu, tersembunyi juga lorong-lorong gelap yang dapat membawa mereka pada risiko manipulasi, kekerasan verbal, dan eksploitasi yang sering kali tidak terlihat oleh orang dewasa.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena berbagai laporan menunjukkan meningkatnya kasus kekerasan digital terhadap anak. Bahkan pada Maret 2026, pemerintah di Indonesia mulai merencanakan langkah tegas untuk menonaktifkan akun anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi sebagai upaya menekan potensi kekerasan dan eksploitasi di ruang digital.
Salah satu ancaman yang paling sering muncul adalah cyberbullying, bentuk perundungan yang tidak lagi terjadi di halaman sekolah tetapi di layar ponsel. Melalui komentar jahat, penyebaran foto memalukan, atau pesan ancaman di media sosial, luka emosional dapat menyebar lebih cepat daripada rumor di dunia nyata.
Ancaman lain yang lebih tersembunyi adalah child grooming, ketika seseorang secara perlahan membangun hubungan emosional dengan anak untuk tujuan eksploitasi. Pelaku sering menyamar sebagai teman sebaya atau idola di platform permainan dan komunitas daring, memanfaatkan rasa ingin tahu anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka sedikit demi sedikit.
Di dunia game yang penuh warna, bahaya juga bisa datang dalam bentuk yang tampak menyenangkan. Tawaran hadiah virtual seperti skin langka, mata uang digital, atau akses premium sering menjadi umpan untuk mencuri data pribadi atau bahkan mengambil alih akun permainan anak.
Tidak kalah penting adalah risiko adiksi digital dan paparan konten negatif. Beberapa platform permainan dan media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi konten kekerasan, pornografi, atau bahkan promosi judi online yang disisipkan secara halus di antara hiburan yang tampaknya tidak berbahaya.
Dalam situasi seperti ini, orang tua sebenarnya memegang peran paling penting sebagai penjaga gerbang digital keluarga. Laporan dari UNICEF menekankan bahwa komunikasi terbuka antara orang tua dan anak merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi anak dari risiko daring.
Percakapan sederhana seperti menanyakan game apa yang dimainkan atau dengan siapa mereka berbicara, sering kali menjadi awal dari kepercayaan yang membuat anak berani bercerita ketika sesuatu terasa tidak aman. Tanpa ruang dialog seperti ini, banyak anak memilih diam karena takut dimarahi atau kehilangan akses ke perangkat mereka.
Selain komunikasi, perlindungan teknis juga penting untuk membangun lapisan keamanan tambahan. Orang tua dapat menggunakan fitur parental control, mengaktifkan autentikasi dua langkah pada akun, serta memastikan profil anak bersifat privat agar informasi pribadi tidak mudah diakses orang asing.
Edukasi privasi juga menjadi bekal penting bagi anak yang tumbuh di dunia digital. Mereka perlu memahami bahwa membagikan nama lengkap, alamat sekolah, atau foto dengan seragam dapat membuka peluang bagi orang asing untuk melacak identitas mereka.
Karena itu, melindungi anak di dunia digital bukan berarti menutup pintu internet sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membekali mereka dengan pengetahuan, kepercayaan, dan kebiasaan yang membuat mereka mampu berjalan dengan aman di dunia yang semakin terhubung.
Kata Kunci / Tags
child grooming Cyber Bullying perundungan




