Menjaga Fitrah di Era Digital Saat Ramadhan
Jurnal News - Seiring perkembangan zaman, dinamika kehidupan manusia semakin kompleks. Beragam isu bermunculan, mengiringi perjalanan manusia modern yang kini hidup dalam perkembangan peradaban teknologi.
Kehidupan manusia modern hampir tak pernah lepas dari gawai. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Layar ponsel seakan menjadi “teman setia” yang selalu hadir. Data menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 3,8 jam per hari di media sosial. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia.
Fenomena ini sekaligus memperjelas betapa dunia digital telah mendominasi lini kehidupan manusia modern. Bahkan Ruang-ruang keagamaan pun tak lekang dari sentuhan teknologi. Ia tidak hanya membentuk cara pandang, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, termasuk dalam menjalani puasa di era digital.
Tantangan Berat di Era Digital
Jika dulu tantangan puasa adalah menahan lapar dan dahaga, kini tantangan terbesar adalah menahan jari dari scroll tanpa henti. Bahkan ada lelucon di kalangan milenial dan Gen Z: kita lebih mudah berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi sangat sulit berpuasa dari pengaruh gawai.
Pernyataan ini mungkin terdengar klise, namun kenyataannya memang demikian. Hoaks, ujaran kebencian, dan isu provokatif begitu mudah tersebar serta tidak jarang membuat hati dan pikiran gusar serta berdampak pada mentalitas kemanusiaan.
Rasa cemas, gelisah, bahkan marah sering kali muncul akibat paparan informasi yang tidak sehat. Menahan lapar dan dahaga mungkin bisa diatasi dengan disiplin fisik, tetapi menahan jari dari scroll membutuhkan disiplin mental dan spiritual yang jauh lebih berat.
Kendati teknologi digital membawa banyak manfaat, ia juga menghadirkan tantangan besar. Gawai dan media sosial bisa membuat kita lupa waktu, mengikis konsentrasi, bahkan mengganggu kualitas hubungan sosial. Lebih dari itu, ketergantungan pada dunia maya menciptakan suasana batin yang mudah terguncang.
Di bulan Ramadhan, tantangan ini semakin nyata. Selain menahan lapar dan dahaga, kita juga dituntut menjaga hati dari polusi digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan konten provokatif adalah “sampah digital” yang mencemari ruang batin. Jika tidak diwaspadai, puasa bisa kehilangan makna spiritualnya, sebab hati tetap kotor oleh pengaruh dunia maya.
Kembali ke Fitrah
Dalam Islam, fitrah berarti kembali pada kesucian hati setelah Ramadhan. Karena itu, Idul Fitri bukan sekadar pakaian baru atau tradisi mudik, melainkan momentum untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran, termasuk kotoran digital.
Kembali ke fitrah di era digital berarti menjadikan ruang daring lebih sehat, jujur, dan penuh kasih. Membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan jejak digital: mengurangi ujaran kebencian, menahan diri dari scroll berlebihan, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan. Semua itu adalah bagian dari ibadah.
Idul Fitri juga menjadi kesempatan menata ulang hubungan, bukan hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan teknologi. Kita diajak untuk tidak sekadar kembali ke tradisi, tetapi juga menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Lebaran kali ini, mari kita tidak hanya bersalaman secara fisik, tetapi juga berkomitmen untuk lebih bijak di dunia maya. Membersihkan hati berarti juga membersihkan jejak digital: menahan diri dari distraksi, mengurangi ujaran kebencian, dan menyebarkan kebaikan.
Dengan begitu, Idul Fitri benar-benar menjadi momen kembali ke fitrah, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ia bukan sekadar perayaan setelah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk melepaskan diri dari candu digital.
Idul Fitri adalah titik awal untuk hidup lebih jernih: menjaga tutur, menebarkan kebaikan, dan menggunakan teknologi sebagai jalan menuju keberkahan. Kembali ke fitrah berarti kembali pada cahaya hati yang bersih, cahaya yang menuntun kita di dunia nyata maupun dunia digital.




