Tips Membangunkan Anak Sahur Tanpa Drama dari Psikolog
Jurnal News - RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Momen sahur kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua karena tidak sedikit anak yang sulit dibangunkan, menangis, hingga memicu “drama” di pagi buta. Padahal, suasana sahur yang tenang sangat penting untuk menjaga kenyamanan ibadah puasa anak.
Psikolog Klinis Tanjungpinang, Ernila, menjelaskan bahwa membangunkan anak untuk sahur tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti membangunkan orang dewasa. Menurutnya, pendekatan emosional dan kebiasaan yang konsisten menjadi kunci utama agar anak bangun tanpa tekanan.
“Orang tua sebaiknya tidak langsung membentak atau menyalakan lampu terang secara tiba-tiba. Bangunkan anak secara perlahan, sentuh lembut bahunya, dan panggil namanya dengan nada tenang,” ujar Ernila, Jumat 27 Februari 2026.
Ia menambahkan, membangun rutinitas sebelum tidur juga sangat berpengaruh. Anak yang tidur terlalu larut cenderung lebih rewel saat dibangunkan sahur.
Karena itu, selama Ramadhan, jam tidur anak perlu disesuaikan agar kebutuhan istirahatnya tetap terpenuhi. Selain itu, orang tua juga disarankan memberi pemahaman sejak awal tentang makna sahur dan puasa sesuai usia anak.
Dengan merasa dilibatkan dan dihargai, anak akan lebih termotivasi untuk bangun tanpa paksaan.
“Libatkan anak saat menyiapkan menu sahur atau biarkan ia memilih makanan favoritnya. Itu bisa meningkatkan semangatnya,” jelasnya.
Ernila menekankan pentingnya menjaga suasana positif. Jika anak tetap sulit bangun, orang tua diminta tidak langsung memarahi atau membandingkan dengan anak lain.
Menurutnya, respon negatif justru bisa membuat anak merasa tertekan dan trauma dengan momen sahur.
“Intinya, sahur bukan sekadar makan sebelum imsak, tapi juga membangun kenangan hangat bersama keluarga. Kalau suasananya nyaman, anak akan lebih mudah diajak bekerja sama,” katanya, mengakhiri.




