Menjaga Keseimbangan Digital dan Nyata untuk Anak
Sumber Foto: Kompasiana.com
Teknologi

Menjaga Keseimbangan Digital dan Nyata untuk Anak

Jurnal News - Dunia digital semakin dekat dengan anak anak kita. Meski tanpa akun sendiri, mereka tetap bisa mengakses berbagai konten melalui teman atau akun orang dewasa. Lantas, bagaimana orang tua menjaga keseimbangannya?

SEBAGAI orang tua yang memiliki anak usia SMP, saya mulai menyadari bahwa dunia digital sudah menjadi bagian dari keseharian anak saya.

Pertanyaan ini muncul bukan karena saya menolak perkembangan teknologi digital. Keresahan ini lebih kepada melihat dampak negatif dunia digital anak yang sering disampaikan oleh para pengamat media sosial.

Fakta yang dekat di lingkungan keluarga saya sendiri cukup terasa. Anak saya menggunakan gawai untuk belajar di sekolah. Ia tidak memiliki akun media sosial sendiri, tetapi tetap terpapar konten digital melalui teman atau akun orang dewasa.

Anak saya bahkan memiliki nomor WhatsApp, meskipun menggunakan identitas orang tua, dan kadang bermain gim yang biasanya dimainkan orang dewasa.

Di rumah, kami masih bisa mengatur penggunaan gawai dengan jam belajar dan waktu istirahat. Selain itu kami menonton tayangan televisi, YouTube, dan film online bersama anak sebagai bentuk pendampingan digital.

Namun, di luar rumah pengawasan tidak selalu bisa dilakukan. Kami tentu tidak bisa mengawasi anak dua puluh empat jam penuh.

Dalam keseharian kami mulai menyadari bahwa dunia digital sudah menjadi bagian dari hidup anak-anak. Secara pribadi saya menilai ketergantungan anak terhadap dunia digital sekitar lima dari sepuluh. Artinya pikirannya sudah terbagi antara dunia nyata dan dunia digital.

Saya juga sering bertanya pada diri sendiri apakah orang tua lain merasakan hal yang sama. Anak tidak memiliki akun media sosial sendiri, tetapi tetap bisa menonton video pendek atau bermain gim melalui akun orang dewasa. Di titik ini rasanya banyak orang tua menghadapi dilema yang sama antara membatasi dan memahami dunia anak yang sudah berubah.

Saat negara menghadirkan Peraturan Pemerintah yang dikenal dengan PP TUNAS untuk membatasi paparan digital anak, muncul pertanyaan dalam pikiran saya. Apakah dunia nyata di sekitar anak sudah cukup siap menampung mereka?.

Mengatur Digital Anak di Rumah Masih Bisa Dilakukan

Kami menyadari bahwa mengatur penggunaan gawai anak di rumah masih bisa dilakukan. Dengan aturan jam belajar dan waktu istirahat serta pendampingan menonton bersama, kami bisa memastikan anak tetap dalam batas wajar. Kami juga memberi arahan saat anak mulai tertarik pada konten yang tidak sesuai usia.

Lihat Techlife Selengkapnya