Kinerja Emiten Stabil dengan Prospek Beragam di Kuartal 4Q25
Sumber Foto: Tempo.co
Ekonomi

Kinerja Emiten Stabil dengan Prospek Beragam di Kuartal 4Q25

Jurnal News - Secara garis besar, performa emiten dalam negeri diperkirakan akan bergerak stabil dengan kecenderungan hasil yang sesuai dengan ekspektasi pasar.

Laba 4Q25: Stabilitas Kinerja di Tengah Arus Netral

BACA JUGA

KDM Inisiasi Desa Percontohan Restorative Justice, Hidupkan Tradisi Musyawarah Damai

Hingga saat ini, 7 perusahaan telah merilis laporan resminya, di mana 31 emiten lainnya diproyeksikan melaporkan hasil yang stabil, 10 emiten di atas ekspektasi, dan 13 emiten mungkin berada di bawah ekspektasi.

Menanggapi hal tersebut, Head of Research, Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini berada dalam posisi netral atau stabil. Kinerja emiten pada kuartal ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spesifik dari masing-masing perusahaan (company-specific factors) dibandingkan dorongan dari kondisi makro ekonomi secara luas.

Dia menekankan bahwa meskipun hasil awal terlihat bervariasi, musim laporan laba kali ini tergolong cukup teratur tanpa adanya kejutan negatif yang drastis. Sebagai contoh, emiten seperti BMRI dan ISAT berhasil mencatatkan kinerja melampaui ekspektasi, sementara BBCA, BBRI, dan BRIS tetap solid dan stabil.

Salah satu tema paling mencolok pada kuartal ini adalah adanya jurang pemisah atau divergensi di dalam sektor konsumsi. Emiten barang konsumsi pokok (staples) pilihan seperti HMSP dan KEJU diperkirakan akan tampil unggul (outperform). Hal ini didukung oleh disiplin margin yang ketat, biaya input yang menguntungkan, serta bauran produk yang semakin membaik.

Sebaliknya, beberapa nama besar di sektor ritel dan barang konsumsi seperti MYOR, ROTI, AMRT, ACES, RALS, dan LPPF cenderung menghadapi tekanan margin. Faktor utamanya adalah pelemahan daya beli masyarakat, persaingan yang semakin sengit, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga kenaikan biaya bahan baku.

Namun, secercah harapan mulai terlihat seiring dengan munculnya sinyal awal pemulihan belanja di segmen masyarakat berpenghasilan rendah (lower-income) saat memasuki Januari 2026.

Meskipun bank-bank besar (Big Banks) menunjukkan hasil yang solid di 4Q25, ruang untuk kenaikan harga saham dalam jangka pendek tampaknya akan terbatas. BMRI menjadi sorotan utama karena berhasil mencetak laba di atas ekspektasi berkat kontrol biaya yang apik dan penurunan biaya pencadangan.

Di sisi lain, BBCA, BBRI, dan BRIS melaporkan hasil yang secara umum sesuai dengan proyeksi. Kualitas aset perbankan nasional memang tetap terjaga dan pertumbuhan kredit masih menunjukkan angka yang sehat.

Namun, proses normalisasi Net Interest Margin (NIM) atau margin bunga bersih terus membayangi, sehingga membatasi potensi kenaikan harga saham lebih jauh. Untuk bank digital dan menengah, ARTO diprediksi tetap stabil, sementara BNGA mungkin sedikit melambat akibat pemulihan margin yang belum maksimal.

Kekuatan Selektif Komoditas dan Stabilitas Sektor Defensif

Di sektor energi dan komoditas, performa emiten terlihat sangat selektif. Saham-saham terkait nikel seperti INCO diproyeksikan mencatat laba kuat berkat volume penjualan yang tinggi.

Sementara itu, MEDC berpotensi mendapatkan keuntungan dari kontribusi positif AMMN. Namun, tantangan tetap ada bagi PGAS akibat normalisasi selisih harga gas, serta tekanan operasional bagi UNTR dan BRMS.

Sebagai penyeimbang, sektor infrastruktur dan defensif tetap menjadi jangkar stabilitas. Bisnis dengan pendapatan berulang (recurring income) seperti menara telekomunikasi (MTEL, TOWR), layanan kesehatan (MIKA, SILO), unggas (CPIN, JPFA), hingga distribusi kimia (AKRA) umumnya diperkirakan akan melaporkan laba yang stabil dan sesuai ekspektasi berkat arus kas yang sangat terprediksi.