Menjaga Silaturrahim Digital dengan Niat dan Adab
Jurnal News - “Namun demikian, ulama’ juga mengingatkan bahwa silaturrahim digital TIDAK BOLEH kehilangan ruhnya.”
Oleh Bey Arifin*
SILATURRAHIM merupakan ajaran fundamental dalam Islam yang tidak lekang oleh waktu. Ia adalah jembatan kasih sayang yang menghubungkan hati, memperpanjang umur dalam keberkahan, dan melapangkan rezeki.
Di era digital yang serba cepat dan tanpa batas, makna silaturrahim tidak hilang, tetapi justru menghadapi tantangan sekaligus peluang baru.
Dalam perspektif ulama’, silaturrahim bukan sekadar pertemuan fisik, tetapi keterhubungan hati yang dilandasi niat ikhlas.
Para ulama’ mengajarkan bahwa ukhuwah harus dijaga dengan adab, kejujuran, dan saling menghormati. Di sini, teknologi hanyalah sarana bukan pengganti nilai.
Era digital menghadirkan kemudahan luar biasa: pesan singkat, video call, media sosial, dan berbagai platform komunikasi memungkinkan silaturrahim dilakukan lintas jarak dan waktu.
Dalam kondisi tertentu, ini menjadi bentuk kemudahan (taysir) yang sejalan dengan prinsip syariat. Menyapa keluarga melalui pesan, mendoakan melalui media, atau menguatkan sahabat lewat ruang digital tetap bernilai silaturrahim jika disertai niat yang tulus.
Namun demikian, ulama’ juga mengingatkan bahwa silaturrahim digital TIDAK BOLEH kehilangan ruhnya. Interaksi yang dangkal, sekadar formalitas, atau bahkan diwarnai konflik di media sosial justru dapat merusak ukhuwah.
Oleh karena itu, adab tetap menjadi kunci: menjaga lisan (meskipun dalam bentuk tulisan), menghindari prasangka, serta tidak menyebarkan fitnah dan kebencian.
Lebih jauh, silaturrahim di era digital menuntut keseimbangan. Pertemuan langsung (liqa’) tetap memiliki keutamaan tersendiri, karena menghadirkan sentuhan emosional yang lebih dalam.
Maka, teknologi seharusnya menjadi penguat, bukan pengganti menyambung yang jauh dan mempererat yang dekat.
Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, silaturrahim digital juga dapat menjadi sarana dakwah dan penguatan komunitas. Grup keluarga, forum alumni, hingga majelis online bisa menjadi ruang berbagi ilmu, doa, dan kepedulian.
Di sinilah nilai ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah dapat tumbuh secara bersamaan.
Akhir kata, silaturrahim di era digital adalah keniscayaan zaman yang harus disikapi dengan bijak.
Dengan menjaga niat, adab, dan keseimbangan, umat Islam dapat merawat hubungan tanpa kehilangan makna.
Karena sejatinya, yang menghubungkan bukanlah jaringan internet, melainkan hati yang saling terikat dalam kasih sayang dan doa.
———




