Mitos Kebugaran Pasca Lebaran: Menjaga Pola Makan Sehat
Sumber Foto: Malang Posco Media
Lifestyle

Mitos Kebugaran Pasca Lebaran: Menjaga Pola Makan Sehat

Jurnal News - Momentum Lebaran memang selalu identik dengan kegembiraan, silaturahmi, dan tentu saja beragam makanan. Meja di ruang makan berubah menjadi semacam “festival kalori”: ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng hati, kue kering, hingga aneka minuman serba manis.

Bahkan di beberapa wilayah dikenal “Lebaran Ketupat”, sebuah tradisi, terutama di Jawa, pada 8 Syawal dengan makan ketupat, melambangkan ngaku lepat (mengakui kesalahan), silaturahmi, dan syukur setelah puasa Syawal.

Tidak mengherankan apabila muncul gurauan bahwa setelah Lebaran, badan ikut melebar alias “lébaran” (lebih lebar). Meskipun terdengar ringan, sejatinya gurauan tersebut menyentuh persoalan yang lebih serius terkait pola makan dan mitos kebugaran.

Banyak orang percaya bahwa selama mereka rajin berolahraga, apa pun yang dimakan bisa “ditebus” kemudian. Logika ini sangat populer: makan bebas saat libur, lalu membayarnya dengan lari pagi atau bersepeda beberapa hari setelahnya.

Kebugaran seolah masih menjadi semacam “asuransi metabolik” yang mampu menetralkan semua kelebihan makan. Sayangnya, logika tersebut tidak sepenuhnya benar.

Outrun a bad diet

Sejumlah ilmuwan kesehatan bahkan secara terang-terangan menyebutnya sebagai mitos kebugaran yang paling persisten. Di British Journal of Sports Medicine, Malhotra dkk. (2015) menegaskan “It is time to bust the myth of physical inactivity and obesity: you cannot out run a bad diet.” Sudah waktunya mematahkan mitos bahwa obesitas semata-mata disebabkan oleh kurang olahraga. Kenyataannya, pola makan yang buruk tidak bisa dikalahkan hanya dengan aktivitas fisik saja.

Masalahnya sederhana bahwa tubuh manusia membakar kalori jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan kita mengonsumsinya. Ambil contoh yang sering dipakai dalam literatur kebugaran. Lari sejauh 10 kilometer bagi banyak orang hanya membakar sekitar 600 kalori. Itu bukan jumlah kecil—lari sejauh itu bisa memakan waktu satu jam atau lebih, dengan keringat yang tidak sedikit. Namun, 600 kalori kira-kira setara dengan satu donat besar yang dilapisi gula dan krim. Jika ditambah secangkir kopi manis atau minuman bersirup, jumlah kalorinya bahkan bisa melampaui itu.

Contoh sederhana ini memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: sangat mudah menambah kalori melalui makanan, tetapi jauh lebih sulit menghilangkannya melalui olahraga. Dengan kata lain, satu keputusan kecil di meja makan bisa “mengalahkan” satu jam usaha keras di lintasan lari.

Lebaran memperbesar fenomena ini. Dalam suasana penuh kehangatan keluarga, orang cenderung makan lebih sering dan lebih banyak. Bukan hanya makan utama, tetapi juga camilan yang datang silih berganti. Sepotong nastar di sini, selembar kastengel di sana, lalu segelas sirup manis yang menyegarkan. Tanpa terasa, kalori yang masuk bisa melonjak jauh di atas kebutuhan harian.

Di sinilah mitos kebugaran menjadi problematik. Banyak orang mengira bahwa selama mereka tetap aktif berolahraga—lari, bersepeda, atau pergi ke gym—semua kelebihan makan akan otomatis terimbangi. Padahal kebugaran sejati tidak hanya dibangun di lintasan lari, tetapi juga di meja makan.

Bukan berarti olahraga tidak penting—justru sebaliknya. Aktivitas fisik memiliki manfaat besar bagi kesehatan jantung, metabolisme, kesehatan mental, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Namun olahraga bukanlah kartu bebas yang membuat kita bisa mengabaikan kualitas dan jumlah makanan yang kita konsumsi.

Pola makan tetap memainkan peran utama. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan makan sering kali memberikan dampak yang lebih besar terhadap berat badan dibandingkan peningkatan aktivitas fisik semata. Mengurangi minuman manis, mengendalikan porsi, dan memilih makanan yang lebih alami dapat membuat perbedaan yang signifikan tanpa harus melakukan perubahan ekstrem.

Kesadaran Menikmati Lebaran

Dalam konteks Lebaran, pesan ini sebenarnya tidak harus dimaknai secara kaku. Lebaran adalah momen kebersamaan, bukan ajang menghitung kalori dengan rasa bersalah. Menikmati hidangan khas hari raya adalah bagian dari budaya dan tradisi yang berharga. Namun, kesadaran tetap penting: menikmati bukan berarti berlebihan, dan kebugaran bukanlah alat untuk “menebus” semua yang kita makan.

Mungkin cara terbaik memandangnya adalah dengan keseimbangan yang jujur. Makan dengan penuh kesadaran, bergerak secara teratur, dan memahami bahwa tubuh memiliki batas. Dengan begitu, Lebaran tetap bisa dirayakan dengan sukacita tanpa harus diikuti oleh kejutan ketika jarum timbangan bergerak ke kanan. Akhirnya, ungkapan populer itu mengingatkan kita pada satu hal sederhana tetapi penting: kebugaran tidak dibangun hanya dengan berlari lebih jauh atau berolahraga lebih keras, tetapi juga dengan cara kita makan setiap hari. Lebaran boleh datang setiap tahun, tetapi kebiasaan hidup sehat berlangsung sepanjang waktu. Dari situlah sebenarnya cerita tentang “melébar” atau tidaknya tubuh kita bermula.(*)