Hyrox: Tren Kebugaran Baru yang Menawarkan Peluang Bisnis di Indonesia
Jurnal News - Hyrox: Tren Olahraga Baru yang Mengguncang Dunia Kebugaran Urban
Dunia olahraga selalu dinamis, menghadirkan tren-tren baru yang menarik perhatian publik. Setelah demam padel melanda, kini muncul sebuah fenomena kebugaran baru yang tak kalah menghebohkan: Hyrox. Meskipun belum secara resmi digelar di Indonesia, antusiasme masyarakat terhadap Hyrox tergolong luar biasa, menandakan potensi besar olahraga ini untuk berkembang di tanah air.
Dari Mana Hyrox Berasal?
Hyrox bukanlah olahraga yang sepenuhnya baru. Jika padel memiliki akar dari permainan tenis, Hyrox memadukan dua elemen fundamental dalam dunia kebugaran: lari dan berbagai latihan kekuatan serta fungsional. Konsep Hyrox dikembangkan oleh Moritz Fürste, seorang Olympian dan juara dunia, bersama Christian Toetzke. Sejak diluncurkan pada tahun 2017, Hyrox dirancang agar dapat diikuti oleh siapa saja, tanpa memandang batasan kualifikasi, waktu, maupun usia.
Format kompetisi Hyrox bersifat universal, artinya setiap ajang Hyrox di seluruh dunia memiliki tata cara yang sama. Peserta akan dihadapkan pada delapan putaran lari sejauh 1 kilometer, yang diselingi oleh delapan stasiun latihan yang menantang. Setiap stasiun menghadirkan jenis latihan yang berbeda, seperti SkiErg, burpee, atau rowing. Kesamaan format ini menciptakan rasa kebersamaan di antara para peserta, baik amatir maupun profesional. Mereka merasa terhubung melalui minat yang sama pada kebugaran dan kepuasan pribadi dalam menaklukkan tantangan diri sendiri, dalam naungan komunitas global yang solid.
Mengapa Hyrox Begitu Populer?
Perhatian publik terhadap Hyrox mulai meroket ketika figur publik mulai terlibat. Salah satunya adalah mantan atlet sepak bola nasional, Irfan Bachdim, yang berhasil memecahkan rekor Indonesia pada kompetisi HYROX Hongkong di tahun 2024. Popularitasnya semakin meroket ketika idola Korea Selatan, Choi Minho, berhasil menjuarai kompetisi HYROX Taipei pada tahun 2026.
Bahkan, di Indonesia, antusiasme terhadap Hyrox terlihat jelas. Untuk mendapatkan tiket partisipasi dalam ajang HYROXINA, para calon peserta harus berjuang keras dalam “perang tiket” yang harganya bahkan melebihi tiket maraton 42 kilometer di Maybank Marathon. Meskipun formatnya berbeda, perbandingan ini memberikan gambaran betapa tingginya minat dan kesediaan untuk mengeluarkan biaya demi mengikuti kompetisi kebugaran seperti Hyrox.
Hyrox mulai menarik perhatian secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan komunitas gym elit, ekspatriat, profesional korporat, dan para influencer kebugaran. Bagi masyarakat urban yang terbiasa dengan gaya hidup serba cepat dan penuh tuntutan, Hyrox selaras dengan prinsip-prinsip kedisiplinan, produktivitas, dan performa.
Promosi masif di media sosial turut berperan besar dalam mempopulerkan Hyrox. Olahraga ini ditampilkan sebagai sebuah lomba yang estetik, sinematik, dan dramatis, sebuah bentuk performative health. Video-video sled push, foto-foto arena yang penuh dengan atmosfer kompetisi, garis finis yang dramatis, dan papan leaderboard yang menampilkan performa para peserta, membanjiri lini masa. Hal ini menjadikan Hyrox bukan sekadar olahraga, melainkan juga bagian dari identitas digital para pesertanya.
Para pengelola pusat kebugaran di Indonesia pun melihat Hyrox sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Melalui promosi intensif di platform seperti Instagram dan TikTok, Hyrox dipasarkan sebagai sebuah pengalaman kompetisi yang menarik, yang terus memantik rasa penasaran calon peserta baru.
Bisnis di Balik Fenomena Hyrox
Setiap penyelenggaraan lomba Hyrox terpusat melalui sebuah lembaga bernama Hyrox, yang didirikan oleh para penggagasnya. Pada tahun lalu, omzet bisnis Hyrox dilaporkan mencapai sekitar $140 juta atau Rp2,34 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar ekosistem industri Hyrox yang menjanjikan, dengan jangkauan global yang meliputi 11 negara dan 85 ajang kompetisi.
Jaringan bisnis Hyrox tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan lomba. Bisnis ini juga merambah ke sektor race-cation, yang menawarkan akomodasi seperti hotel dan maskapai penerbangan kelas atas. Selain itu, terdapat pula berbagai produk komersial turunan, seperti ransel Hyrox yang menjadi simbol status bagi para peserta yang berhasil menyelesaikan kompetisi, hingga berbagai macam merchandise lainnya. Potensi pemasukan yang signifikan juga berasal dari lisensi gym dan program pelatihan (coaching), yang rata-rata menghasilkan £84 juta per tahun atau setara dengan Rp1,6 triliun. Hal ini menegaskan besarnya ceruk bisnis yang dapat digali dari tren Hyrox.
Melihat perkembangannya, Hyrox memenuhi kriteria untuk dikategorikan sebagai sport capitalism atau komersialisasi olahraga. Pengalaman emosional yang dirasakan peserta, mulai dari kelelahan, kebanggaan, hingga adrenalin saat menyelesaikan lomba, diubah menjadi sebuah komoditas. Komoditas ini kemudian digunakan untuk memengaruhi orang lain agar tertarik untuk mencoba Hyrox.
Proses komodifikasi Hyrox dilakukan dengan memposisikan kebugaran sebagai produk konsumsi yang berorientasi pada performa dan estetika. Tubuh peserta ditampilkan sebagai simbol status baru di media sosial, yang semakin memperkuat daya tarik olahraga ini. Akibatnya, masyarakat yang terpapar konten Hyrox tidak hanya mendapatkan informasi tentang kompetisi kebugaran, tetapi juga secara tidak sadar dipengaruhi untuk turut mencobanya.
Sebelum Hyrox menjadi viral, minat masyarakat terhadap latihan beban (ngegym) memang sudah menunjukkan tren positif. Pada tahun 2020, jumlah gym dan pusat kebugaran baru di Indonesia mencapai 8.156 tempat, yang merupakan 67,75% dari total gym di Indonesia. Angka ini menjadi basis potensial yang sangat kuat untuk pengembangan Hyrox lebih lanjut.
Arah Perkembangan Hyrox di Indonesia
Fenomena Hyrox menunjukkan bahwa kebugaran kini tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang netral. Kebugaran telah terhubung erat dengan produksi status sosial, pembentukan identitas, dan tekanan performa di lingkungan perkotaan. Ini adalah warisan dari pandemi COVID-19, yang secara signifikan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.
Munculnya Hyrox di Indonesia merupakan bagian dari fase baru dalam evolusi budaya kebugaran di kalangan urban, yang turut membentuk segmentasi kelas tersendiri. Keberlanjutan Hyrox di tanah air memang masih terlalu dini untuk dinilai secara pasti.
Saat ini, banyak peserta dari Indonesia yang rela terbang ke luar negeri untuk mengikuti kompetisi Hyrox karena belum adanya ajang resmi di dalam negeri. Oleh karena itu, antusiasme terhadap AirAsia Hyrox Jakarta yang dijadwalkan pada 6-7 Juni 2026 akan menjadi salah satu penentu krusial, apakah tren Hyrox dapat berkembang pesat di Indonesia.
Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bagaimana menggeser narasi Hyrox dari sekadar fokus pada performa, menuju konsep kesehatan yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial. Hal ini penting mengingat bagi mayoritas masyarakat, mengakses fasilitas gym dengan peralatan yang lengkap dan estetis masih menjadi kendala, terutama dari sisi finansial.




