Senny Suzanna Alwasilah: Inspirasi dalam Pendidikan, Seni, dan Sastra
Di tengah kesibukan kota Bandung yang selalu hidup, nama Senny Suzanna Alwasilah mencuat sebagai simbol inspirasi di dunia pendidikan, seni, dan sastra. Kehadirannya bak sinar mentari sore yang lembut, menunjukkan dedikasi dan cinta terhadap ilmu yang tak pernah pudar.
Lahir pada 11 Oktober 1962, Senny tumbuh dengan nilai-nilai kesederhanaan dan ketekunan yang kuat. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional Universitas Pasundan (Unpas), sebuah posisi yang mencerminkan komitmennya terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat.
Senny bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga seorang penulis yang produktif. Ia telah menerbitkan berbagai karya, baik ilmiah maupun sastra, termasuk buku-buku teks dan antologi puisi. Beberapa karyanya yang menonjol antara lain Studi Kasus 2.0: Qualitative Research (2025), Reading-Writing Connections: Menulis Kolaborasi (2024), dan Rhyme of Tears: Antologi Haiku Indonesia-Inggris (2023).
Selain mengajar, Senny juga aktif dalam organisasi penulis. Saat ini, ia menjabat sebagai President Asian Women Writers Association (AWWA) dan telah berkolaborasi dalam menulis haiku dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Kecintaannya pada budaya Jepang menjadi inspirasi dalam penulisan haiku, terutama pengaruh dari Daisaku Ikeda, tokoh perdamaian yang dihormatinya.
Dalam karier akademiknya, Senny telah mengisi berbagai posisi, mulai dari ketua laboratorium bahasa hingga dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra. Ia mengajarkan mata kuliah seperti Imaginative Writing dan Cross Cultural Understanding, mengajak mahasiswanya untuk tidak hanya belajar menulis, tetapi juga merasakan makna di balik kata-kata.
Senny juga mengimbau pentingnya membaca sebagai dasar untuk menjadi penulis yang baik, dengan menekankan bahwa menulis adalah keterampilan yang perlu dilatih secara terus-menerus. Selain itu, ia percaya bahwa setiap tulisan haruslah membawa pesan yang dapat menginspirasi orang lain.
Selain prestasi akademis dan karyanya, Senny adalah seorang ibu dari lima anak. Keluarganya menjadi bagian penting dalam hidupnya, di mana ia bersama almarhum suaminya, Prof. Adeng Chaedar Alwasilah, telah membesarkan mereka dengan nilai-nilai cinta dan pendidikan.
Dengan segala dedikasi dan kontribusinya, Senny Suzanna Alwasilah menjadi teladan yang menunjukkan bahwa perempuan dapat bersinar dalam berbagai bidang. Melalui perjuangannya, ia mengajak kita semua untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan makna, sehingga dapat meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi generasi mendatang.




