Perempuan dan Kesetaraan Akses di Era Digital
Jurnal News - Jika kita konsisten, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana dunia digital membuka peluang untuk semua, terutama bagi setengah penduduk yang selama ini paling sering tertinggal: perempuan
Apa pelajaran utama dari Hari Perempuan Internasional 2026 ini? Tema Hari Perempuan Internasional 2026 adalah "Hak. Keadilan. Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan". Tema ini membawa pesan sederhana: hak itu harus terasa di kehidupan sehari-hari, bukan hanya tertulis dalam aturan.
Saat ini, menurut PBB, hak yang dinikmati perempuan baru sekitar 64 persen dari hak laki-laki di berbagai bidang (pekerjaan, uang, keluarga, keselamatan, dan lain-lain). Jika perubahan berjalan pelan, butuh ratusan tahun sampai benar-benar mencapai posisi setara antara laki-laki dengan perempuan.
Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi aksi, mulai dari kebijakan yang tepat, penegakan hukum, sampai program yang menyentuh akar masalah.
Seruang dengan itu, juga menyinggung keamanan di dunia daring. Komisi PBB untuk Status Perempuan menekankan bahwa teknologi harus aman dan ramah bagi perempuan, termasuk pencegahan kekerasan dan pelecehan di internet, serta pendidikan digital sejak dini. Tanpa rasa aman, orang enggan menggunakan layanan digital, sebaik apa pun jaringannya.
Untuk mewujudkan semua itu, kita masih mengalami sejumlah tantangan. Pertama, mengenai harga dan perangkat. Di banyak wilayah, internet masih mahal, dan ponsel pintar belum terjangkau semua orang. Untuk sebagian keluarga, memilih paket data sama sulitnya dengan memilih kebutuhan pokok. Ini membuat perempuan (yang sering memprioritaskan kebutuhan rumah tangga), menunda menggunakan akses internet.
Kedua, sinyal dan infrastruktur. Di desa atau wilayah terpencil, sinyal sering tidak stabil. Ini membuat pengalaman untuk mengakses dunia dalam jaringan (daring) menjadi mengecewakan.
Ketiga, keamanan dan kenyamanan. Kekerasan dan pelecehan di dunia maya membuat banyak perempuan takut berekspresi atau enggan mencoba hal baru. Jika platform tidak menyediakan fitur pelaporan dan perlindungan data yang jelas, pengguna rentan menjadi korban.
Keempat, komitmen yang naik-turun. Ada tanda sebagian perusahaan mengendurkan komitmen pada program keberagaman. Padahal, saat teknologi berubah cepat (termasuk AI), kita butuh lebih banyak sudut pandang agar kebijakan dan produk lebih adil.




