Pendidikan Digital: Guru MI di Desa Mulia Abadi Kenali Perpustakaan Digital
Jurnal News - Tidak semua guru di desa memiliki akses mudah terhadap sumber bacaan dan referensi pembelajaran. Padahal, di era digital seperti sekarang, informasi sebenarnya dapat diakses dengan lebih mudah melalui teknologi. Namun, kenyataannya masih banyak pendidik di daerah yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk memperoleh sumber belajar.
Hal inilah yang saya temui ketika melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mulia Abadi, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Desa Mulia Abadi merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Harapan Mulia yang sebelumnya dikenal dengan Desa Pinang Raya. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 23,22 km dan sebagian wilayahnya didominasi oleh kawasan perairan. Sungai Meriak yang melintasi desa menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat, baik untuk kegiatan perikanan maupun aktivitas sehari-hari.
Sebagian besar masyarakat desa menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan hasil perairan. Selain menanam padi dan ketan, masyarakat juga memanfaatkan hasil tangkapan ikan dari sungai seperti ikan gabus, betok, sepat, dan nila. Dalam kegiatan KKN tersebut, saya melaksanakan program kerja di Dusun 1 (Pinang Raya). Selama berada di desa ini, saya menyadari bahwa akses terhadap sumber bacaan dan referensi pengetahuan masih cukup terbatas, khususnya bagi para pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam.
Sebagai pendidik di tingkat dasar, guru memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan literasi dan pengetahuan siswa. Namun, berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan para pengajar MI tersebut, mereka mengungkapkan bahwa pilihan referensi bacaan yang dapat digunakan sebagai bahan pendukung pembelajaran masih terbatas. Berangkat dari kondisi tersebut, saya mencoba memperkenalkan salah satu alternatif sumber bacaan yang lebih mudah diakses, yaitu melalui perpustakaan digital. Dalam kegiatan ini, para pengajar Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam diperkenalkan dengan aplikasi Diary Sumsel, sebuah perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan.
Aplikasi ini menyediakan berbagai koleksi buku digital yang dapat diakses secara gratis melalui telepon genggam berbasis Android. Dengan adanya aplikasi ini, para guru dapat membaca berbagai buku tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Kegiatan pendampingan dilakukan secara sederhana namun bertahap. Para pengajar MI terlebih dahulu diperkenalkan dengan tujuan dan manfaat penggunaan perpustakaan digital. Setelah itu, mereka dibimbing untuk mengunduh aplikasi Diary Sumsel melalui Play Store serta membuat akun pengguna.
Selanjutnya, para peserta diajarkan cara mencari buku sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti buku bertema pendidikan maupun keislaman yang dapat digunakan sebagai referensi tambahan dalam kegiatan pembelajaran. Para pengajar juga mempraktikkan secara langsung cara meminjam buku melalui aplikasi serta memahami sistem peminjaman yang tersedia di dalamnya. Menariknya, kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para pengajar Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam. Beberapa di antaranya mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa ada perpustakaan digital yang dapat diakses melalui ponsel. Bagi mereka, pengalaman ini menjadi sesuatu yang baru sekaligus membuka wawasan mengenai pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan.
Salah satu pengajar MI di Desa Mulia Abadi, Ibu Julia, juga menyampaikan pandangannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan perpustakaan digital seperti Diary Sumsel sangat membantu para guru dalam mencari referensi pembelajaran.
"Menurut saya aplikasi ini sangat membantu kami sebagai guru. Sekarang kami bisa mencari buku atau referensi pembelajaran langsung dari ponsel. Jadi kalau ingin menambah materi untuk siswa, kami tidak harus menunggu buku baru di sekolah," ungkap Ibu Julia.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan agar para guru di desa semakin terbiasa memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Meskipun sempat terkendala oleh jaringan internet yang kurang stabil, kegiatan ini tetap dapat berjalan dengan baik hingga para peserta berhasil mencoba menggunakan aplikasi tersebut secara mandiri.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas akses literasi, terutama bagi para pendidik di wilayah pedesaan. Dengan adanya perpustakaan digital, para guru memiliki kesempatan untuk memperoleh referensi bacaan yang lebih luas tanpa terbatas oleh jarak maupun ketersediaan buku fisik.
Pada akhirnya, langkah sederhana seperti memperkenalkan perpustakaan digital dapat menjadi awal yang baik dalam membuka akses pengetahuan bagi para guru di desa. Ketika para pendidik memiliki akses terhadap sumber belajar yang lebih luas, maka kualitas pembelajaran yang diberikan kepada siswa juga berpotensi menjadi lebih baik.




