Olahraga Aman Saat Puasa: Tips Kebugaran untuk Warga Blitar
Blitar, serayunusantara.com — Meningkatnya tren lari sore di tengah ibadah puasa Ramadan memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas dan keamanan olahraga saat kondisi perut kosong.
Para praktisi kesehatan dan komunitas lari di Blitar merekomendasikan manajemen waktu dan intensitas agar kebugaran tetap terjaga tanpa mengganggu ibadah, Jumat (27/02/2026).
Waktu yang paling disarankan untuk berolahraga, khususnya lari atau jalan cepat, adalah pada periode “Golden Hour”, yakni 30 hingga 60 menit menjelang berbuka puasa.
Pemilihan waktu ini bertujuan agar cairan tubuh yang hilang melalui keringat dapat segera digantikan begitu azan Magrib berkumandang, sehingga risiko dehidrasi ekstrem dapat diminimalisir.
Nanang (52), seorang pelari kawakan di Blitar, menegaskan bahwa kunci utama olahraga saat Ramadan bukan pada kecepatan, melainkan pada pemeliharaan ritme tubuh.
“Ramadan bukan saatnya mengejar rekor pribadi. Gunakan prinsip talk test, yakni berlari dengan kecepatan sedang di mana kita masih bisa berbicara lancar tanpa terengah-engah. Jika sudah merasa pusing atau lemas berlebih, segera berhenti. Jangan dipaksa,” terangnya saat ditemui di kawasan Stadion Soepriadi.
Selain pengaturan waktu, manajemen nutrisi saat sahur dan berbuka juga memegang peranan penting. Para pelari disarankan mengonsumsi karbohidrat kompleks dan air mineral yang cukup saat sahur sebagai cadangan energi.
Sementara saat berbuka, sangat dianjurkan untuk mendahulukan air putih dan sumber gula alami seperti kurma guna mengembalikan energi instan sebelum melakukan pendinginan atau makan berat.
Durasi olahraga yang ideal selama puasa berkisar antara 20 hingga 45 menit dengan intensitas rendah hingga sedang.
Dengan mengikuti panduan ini, warga Blitar diharapkan tetap dapat menjalankan gaya hidup aktif dan menjaga imunitas tubuh meski tengah menjalankan ibadah puasa secara penuh. (Fis/Serayu)




