Komunikasi Pemerintahan: Fokus pada Figur atau Kolektif?
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Rizki Faisal, menilai hasil monitoring digital yang dirilis Sintesa Strategi Indonesia (SSI) dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa penguatan komunikasi publik diperlukan agar capaian kebijakan pemerintah tersampaikan secara lebih merata kepada masyarakat.
Dalam pemantauan percakapan di berbagai kanal digital—X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online—pada periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026, SSI mencatat persepsi publik terhadap Presiden Prabowo masih didominasi sentimen positif. Sentimen positif tercatat sebesar 41,5 persen, lebih tinggi dibanding sentimen negatif yang berada pada 13,8 persen, sementara 44,7 persen percakapan bersifat netral.
Menurut Rizki Faisal, komposisi sentimen tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden masih terjaga. Namun, ia menilai situasi itu tidak boleh membuat pemerintah lengah karena masih terdapat ruang untuk memperkuat komunikasi agar dukungan publik dapat dipertahankan dan program-program pemerintah dipahami lebih luas.
SSI juga menemukan bahwa pembentukan opini mengenai Presiden Prabowo lebih banyak berlangsung di media sosial. Sekitar 71 persen opini terbentuk melalui media sosial, sedangkan 29 persen berasal dari media online. Temuan ini menegaskan bahwa ruang digital menjadi arena utama dalam membangun sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Di sisi lain, riset tersebut mencatat komunikasi pemerintahan masih sangat bertumpu pada figur Presiden. Dari total sekitar 231,4 juta paparan konten terkait Presiden Prabowo, kurang dari 20 persen yang berkaitan langsung dengan nama-nama anggota kabinet. Bagi Rizki Faisal, data ini menggambarkan perlunya penguatan komunikasi kolektif agar informasi mengenai program dan kinerja pemerintah tidak hanya melekat pada Presiden, tetapi juga dapat disampaikan oleh jajaran kabinet secara lebih aktif dan terkoordinasi.
Dalam pemetaan SSI, Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tercatat sebagai figur kabinet dengan kontribusi sentimen positif terbesar terhadap citra Presiden pada kelompok eksposur tertinggi (Tier 1). Kontribusi sentimen positif Bahlil mencapai 40,1 persen, dengan sentimen negatif relatif rendah sebesar 5,9 persen. Rizki Faisal menilai capaian itu menunjukkan efektivitas komunikasi publik yang aktif, konsisten, dan sejalan dengan arah kebijakan Presiden dalam memperkuat persepsi positif masyarakat terhadap pemerintah.
Rizki Faisal menilai hasil monitoring SSI perlu dibaca sebagai peringatan sekaligus peluang bagi pemerintah. Di satu sisi, dominasi sentimen positif menandakan fondasi kepercayaan publik masih kuat. Namun di sisi lain, tingginya porsi percakapan netral serta ketergantungan komunikasi pada figur Presiden menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperluas jangkauan pesan pemerintah melalui peran kolektif kementerian dan lembaga.
“Data ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh kemampuan seluruh jajaran pemerintah dalam mengomunikasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat. Apa yang ditunjukkan Bahlil menjadi contoh bahwa komunikasi yang konsisten dapat menjadi penopang kepercayaan publik terhadap Presiden,” ujar Rizki Faisal.
Dengan ruang digital sebagai kanal utama pembentukan opini, Rizki Faisal menilai pemerintah perlu memperkuat strategi komunikasi yang lebih merata dan tidak terpusat pada Presiden semata. Ia menekankan pentingnya keterlibatan jajaran kabinet dalam menyampaikan program dan kebijakan secara konsisten agar persepsi publik dapat terjaga. Temuan SSI, menurutnya, dapat menjadi rujukan untuk memastikan komunikasi pemerintah berjalan lebih efektif dan terkoordinasi ke depan.




