Mundur dari WHO, AS Picu Krisis Kesehatan Global
Sumber Foto: Harianjogja.com
Internasional

Mundur dari WHO, AS Picu Krisis Kesehatan Global

Home > News

Maya Herawati

Kantor Pusat WHO. / Bisnis.com

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA —Keputusan Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memicu sorotan global terhadap masa depan tata kelola kesehatan internasional, seusai pemerintahan Presiden Donald Trump menilai lembaga tersebut gagal menjalankan peran strategisnya saat pandemi Covid-19.

Langkah penarikan diri itu sebenarnya telah diumumkan Trump sejak hari pertama masa jabatan keduanya pada 2025 melalui perintah eksekutif, yang menandai perubahan drastis arah kebijakan kesehatan luar negeri Amerika Serikat.

Advertisement

Dalam pernyataan bersama Departemen Kesehatan dan Departemen Luar Negeri AS yang dikutip dari Reuters, Sabtu (24/1/2026), pemerintah menyatakan hanya akan menjalin komunikasi terbatas dengan WHO untuk menyelesaikan proses administratif penarikan diri tersebut.

Seorang pejabat senior kesehatan pemerintah AS menegaskan bahwa negaranya tidak berniat berpartisipasi sebagai pengamat maupun kembali bergabung di masa mendatang.

BACA JUGA

Ahli Gizi Soroti Risiko Terlalu Tinggi Serat pada Pola Makan Harian

Angin Kencang Terjang DIY, BPBD Catat 2 Warga Sleman Meninggal Dunia

“Kami tidak berencana berpartisipasi sebagai pengamat dan tidak ada rencana untuk bergabung kembali. Ke depan, AS berencana bekerja langsung dengan negara lain, bukan melalui organisasi internasional, dalam pengawasan penyakit dan prioritas kesehatan publik lainnya,” ujarnya.

Berdasarkan ketentuan hukum di Amerika Serikat, pemerintah diwajibkan memberikan pemberitahuan satu tahun sebelum keluar dari WHO serta melunasi seluruh tunggakan iuran, yang nilainya diperkirakan mencapai US$260 juta. Namun demikian, pejabat Departemen Luar Negeri AS membantah bahwa kewajiban pembayaran tersebut menjadi syarat mutlak sebelum penarikan diri efektif.

“Rakyat Amerika telah membayar lebih dari cukup,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan tertulis. Pernyataan itu sejalan dengan dokumen Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) yang dirilis Kamis, yang menyebutkan bahwa pemerintah telah menghentikan seluruh kontribusi pendanaan kepada WHO.

Trump disebut menggunakan kewenangannya untuk menangguhkan aliran sumber daya pemerintah AS ke WHO dengan dalih organisasi tersebut telah merugikan Amerika Serikat hingga triliunan dolar. Sebagai simbol berakhirnya hubungan tersebut, bendera Amerika Serikat dilaporkan telah diturunkan dari depan kantor pusat WHO di Jenewa pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat, menurut kesaksian sejumlah pihak.

Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat juga menarik diri dari sejumlah organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lainnya. Sejumlah pengamat menilai peluncuran inisiatif Board of Peace oleh Trump berpotensi melemahkan peran PBB secara keseluruhan dalam menjaga stabilitas global.

Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan langkah ekstrem tersebut. Beberapa pengkritik WHO memang mengusulkan pembentukan lembaga kesehatan global baru sebagai alternatif. Namun, dokumen usulan yang sempat ditinjau pemerintahan Trump pada tahun lalu justru merekomendasikan agar Amerika Serikat mendorong reformasi internal serta memperkuat kepemimpinan AS di tubuh WHO.

Peluang Amerika Serikat untuk kembali bergabung dengan WHO dinilai semakin kecil. Selama setahun terakhir, sejumlah pakar kesehatan global, termasuk Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak agar keputusan tersebut ditinjau ulang. WHO juga menyatakan bahwa Amerika Serikat belum membayar iuran untuk tahun 2024 dan 2025, sementara isu penarikan diri akan dibahas dalam rapat dewan eksekutif WHO pada Februari mendatang.

“Ini merupakan pelanggaran jelas terhadap hukum AS. Namun Trump sangat mungkin lolos dari konsekuensi,” kata Lawrence Gostin, Direktur Pendiri O’Neill Institute for Global Health Law di Universitas Georgetown. Pernyataan senada disampaikan Ketua Gates Foundation Bill Gates, yang mengatakan kepada Reuters di Davos bahwa kecil kemungkinan Amerika Serikat mengubah keputusannya dalam waktu dekat.

“Kami tetap akan mendorong AS untuk kembali bergabung. Dunia membutuhkan WHO,” ujar Gates. Namun, sambil menunggu kepastian tersebut, WHO telah mulai menghadapi dampak nyata dari keputusan Amerika Serikat.

Penarikan Amerika Serikat dari WHO memicu krisis keuangan serius yang memaksa organisasi tersebut memangkas separuh tim manajemen dan mengurangi skala kerja di berbagai unit. Selama ini, Amerika Serikat merupakan kontributor terbesar WHO dengan porsi sekitar 18 persen dari total pendanaan, dan organisasi itu juga berencana memangkas sekitar seperempat jumlah pegawainya hingga pertengahan tahun ini.

WHO menyatakan tetap menjalin kerja sama dan berbagi informasi dengan Amerika Serikat sepanjang tahun lalu, meskipun mekanisme kolaborasi ke depan masih belum jelas. Para ahli kesehatan global menilai situasi ini membawa risiko besar tidak hanya bagi WHO, tetapi juga bagi sistem kesehatan internasional secara keseluruhan.

“Penarikan AS dari WHO berpotensi melemahkan sistem dan kolaborasi global yang selama ini menjadi tulang punggung deteksi, pencegahan, dan respons terhadap ancaman kesehatan,” ujar Kelly Henning, pimpinan program kesehatan publik di Bloomberg Philanthropies, yang menilai dinamika ini akan berdampak panjang bagi stabilitas kesehatan dunia.

BACA JUGA

BMKG Catat Dampak Siklon Luana, Angin Kencang Ancam Jateng Selatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Tag: WHO, Amerika serikat

Advertisement

Berita Terkait

Pecah Kongsi, AS Kecewa Serangan Israel ke Depot BBM Iran

WHO Sesalkan Penarikan AS: Dunia Jadi Lebih Rentan

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Berita Terbaru

KMP Portlink VII Terbakar di Pelabuhan Ketapang, Diduga Korsleting

News | 1 hour ago

Komisi XI DPR RI Tetapkan 5 Pimpinan OJK Baru, Ini Daftarnya

News | 1 hour ago

Prabowo Target Bangun PLTS 100 Gigawatt, Percepat Swasembada Energi

News | 2 hours ago

Kapal Thailand Diserang di Selat Hormuz hingga Terbakar

News | 2 hours ago

Advertisement

Penipuan Raket Padel Rp300 Juta, Wanita Jakbar Jadi Korban

News | 3 hours ago

Friderica Widyasari Sari Terpilih Ketua OJK 2026-2031

News | 3 hours ago

Prabowo Tegur Laporan Palsu BUMN, Soroti 200 Anak Perusahaan

News | 4 hours ago

BPJS Ketenagakerjaan DIY Salurkan Klaim Rp1,19 Triliun Sepanjang 2025

News | 5 hours ago

Harga Bensin di Jepang Melonjak Tajam Imbas Perang AS-Israel ke Iran

News | 5 hours ago

Advertisement

Iran Minta Negara Arab Tunjukkan Lokasi Pasukan AS-Israel

News | 5 hours ago

Duh, Serangan Proyektil Hantam Kapal Kargo di Selat Hormuz

News | 6 hours ago

Pegadaian Tebar Bingkisan Lebaran ke Puluhan Bank Sampah Jateng-DIY

News | 6 hours ago

Kemenhaj Siapkan Tiga Skenario Haji 2026 di Tengah Konflik Global

News | 6 hours ago

Pasokan Energi Terancam, Gangguan di Selat Hormuz Guncang Ekonomi

News | 6 hours ago

Advertisement

Tersangka Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Ajukan Restorative Justice

News | 7 hours ago