Moody's Ubah Outlook Lima Bank Indonesia, Dampak Terhadap Biaya Pendanaan
Sumber Foto: Tribunnews.com
Ekonomi

Moody's Ubah Outlook Lima Bank Indonesia, Dampak Terhadap Biaya Pendanaan

Ringkasan Berita:

Moody’s mengubah outlook lima bank RI, berpotensi menaikkan biaya pendanaan dan yield obligasi.

Pengamat menilai dampaknya terbatas karena peringkat kredit tetap dan fundamental bank masih kuat.

Namun, efek lanjutan bisa dirasakan pada bunga kredit, rupiah, pasar saham, hingga UMKM.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai perubahan outlook lima bank di Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Ratings berpotensi memengaruhi biaya pendanaan perbankan.

Dikutip dari situs moodys.com, Moody's Ratings adalah lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat kredit dan menyediakan layanan penilaian atas berbagai kewajiban utang, program dan fasilitas pembiayaan, serta entitas yang menerbitkan kewajiban tersebut di pasar global, termasuk beragam kewajiban korporasi, lembaga keuangan, dan pemerintah, serta sekuritas pembiayaan terstruktur.

Menurut situs Investopedia, peringkat yang dirilis Moody's digunakan oleh berbagai institusi, individu, maupun entitas dunia, di antaranya reksadana, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan hedge fund.

Selain itu, investor institusional yang mengelola portofolio besar memanfaatkan peringkat kredit untuk menilai risiko yang terkait dengan obligasi korporasi serta instrumen utang lainnya.

Myrdal menjelaskan bahwa dampak paling terasa dari perubahan outlook lima bank di Indonesia oleh Moody's adalah adanya kemungkinan meningkatnya biaya saat bank menerbitkan surat utang global.

"Secara umum sih paling kentara itu bisa membuat adanya kenaikan biaya untuk perbankan Indonesia dalam menerbitkan utang global," kata Myrdal kepada Tribunnews, Sabtu (7/2/2026).

Selain itu, perubahan ini juga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi perbankan yang sudah beredar, sehingga berdampak pada penurunan harga surat utang di pasar.

"Walaupun perbankan kita yang sudah menerbitkan surat utang, kelihatannya dampaknya paling kentara yield mereka akan naik," ujar Myrdal.

"Kalau di pasar surat utang negara sekunder, itu akan membuat harga dari obligasi atau surat utang dari perbankan tersebut akan turun ya harganya,” jelasnya.

Namun, ia menilai berbagai dampak ini tidak akan signifikan karena yang berubah baru sebatas outlook, bukan peringkat utamanya.

Ia pun menekankan kondisi fundamental perbankan nasional masih relatif solid dengan likuiditas membaik, permodalan kuat, serta tingkat kredit bermasalah yang tetap terjaga rendah.

Perhatian pasar belakangan dinilai lebih tertuju pada penurunan profitabilitas perbankan yang terlihat dari indikator seperti net interest margin dan return on equity yang melemah dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Myrdal, itu yang membuat beberapa bulan terakhir saham-saham perbankan, khususnya yang besar, tidak menjadi primadona buat investor di pasar saham.

Dalam pengumumannya pada 6 Februari 2026, Moody's Ratings menyatakan telah mengubah outlook lima bank di Indonesia dari negatif menjadi stabil, tetapi peringkat kredit nya masih tetap sama.