Menghadirkan Slow Living dalam Ibadah Ramadan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hiburan

Menghadirkan Slow Living dalam Ibadah Ramadan

Ramadan 2026 kali ini terasa sedikit berbeda bagiku. Di satu sisi, ada semangat spiritual yang meluap, namun di sisi lain, ritme pekerjaanku sebagai penulis dan pembuat konten sedang berada di puncaknya. Jika kamu mampir ke galeri ponselku, isinya bukan cuma foto tadarus, tapi tumpukan draft tulisan, jadwal tayang konten, hingga deretan video promosi jajanan UMKM yang aku ambil setiap sore.

Jujur saja, ada masa di mana aku merasa "bersalah". Di saat orang lain mungkin sedang khusyuk di masjid menunggu berbuka, aku justru sedang sibuk mengatur angle kamera, memastikan pencahayaan golden hour jatuh dengan sempurna di atas seporsi takjil milik pedagang lokal yang sedang kubantu promosinya.

Aku terjebak dalam dilema: ingin mengejar pahala sebanyak mungkin, tapi raga dan pikiran sudah terkuras untuk karya. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah jalan tengah yang menenangkan hati, yaitu menerapkan Slow Living dalam Ibadah.

Berhenti Menjadikan Ibadah Sebagai "Hustle Culture"

Selama ini, kita sering terjebak dalam pola pikir bahwa produktivitas adalah segalanya. Kita membawa mentalitas "kejar target" dari kantor ke atas sajadah. Kita merasa harus khatam berkali-kali, harus ikut setiap kajian online yang lewat di beranda, dan harus melakukan semua amalan sunnah sekaligus.

Padahal, Ramadan bukan ajang kompetisi siapa yang paling sibuk. Bagi aku yang setiap harinya berkutat dengan deadline, memaksa diri untuk "si paling produktif secara spiritual" justru sering kali berujung pada kelelahan fisik dan kekosongan jiwa.

Prinsip slow living mengajariku untuk melambat. Bukan berarti malas, tapi lebih sadar (mindful) terhadap apa yang dilakukan. Aku mulai belajar bahwa Tuhan tidak sedang menghitung berapa lembar halaman yang aku baca dengan terburu-buru, melainkan seberapa dalam makna yang meresap ke dalam hatiku di setiap hurufnya.

Tidak Harus Khatam Berkali-kali, Cukup Satu Ayat yang Merasuk

Sebagai penulis, aku tahu betul bedanya membaca sekilas dengan membaca untuk memahami. Dulu, aku sering memaksakan diri mengejar target khatam Al-Qur'an dalam sebulan. Hasilnya? Lidahku berlari cepat, tapi pikiranku masih memikirkan revisi tulisan atau ide konten besok pagi.

Sekarang, aku memilih untuk lebih "pelan". Aku tidak lagi merasa berdosa jika hari ini hanya sanggup membaca beberapa ayat. Namun, aku memberikan waktu ekstra untuk membaca terjemahannya, mencari tahu tafsir singkatnya, dan benar-benar merenungi bagaimana ayat itu bisa diaplikasikan dalam hidupku yang sedang riuh ini.

Membaca satu ayat dengan kehadiran hati seutuhnya ternyata jauh lebih menenangkan daripada satu juz yang dibaca tanpa rasa. Ini adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri, membiarkan jiwa benar-benar beristirahat di tengah kesibukan kata-kata.

Menjaga Kualitas di Sela Promosi Jajanan UMKM

Sore hari biasanya menjadi waktu yang paling krusial. Saat energi mulai menurun dan rasa lapar memuncak, aku sering kali harus turun ke lapangan untuk membantu promosi jajanan UMKM. Di tengah hiruk-pikuk pasar takjil, memegang kamera, dan mewawancarai pedagang, rasanya sulit untuk menjaga kekhusyukan.