Mengenal Sugiyati Suyatna Anirun: Ikon Teater Modern Bandung
Sumber Foto: BandungBergerak.id
Catatan Harian

Mengenal Sugiyati Suyatna Anirun: Ikon Teater Modern Bandung

BandungBergerak.id – Sugiyati Suyatna Anirun, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Yati SA, merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam teater modern di Bandung. Sejak usia lima tahun, Yati telah mengenal dunia panggung, terinspirasi oleh latar belakang keluarganya, terutama sang ayah yang merupakan seorang penari. Ia mulai menari dan berakting di berbagai lokasi, termasuk di Gedung Concordia, yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka, yang terletak di Jalan Asia Afrika, Bandung.

Seiring berjalannya waktu, kecintaan Yati terhadap seni peran semakin berkembang. Pada usia 20 tahun, ia bergabung dengan Teater Perintis yang dipimpin oleh Jim Ahi Limas (Jim Lee), salah satu pendiri Studiklub Teater Bandung (STB). Di bawah bimbingan Jim Lee, Yati mulai menekuni dunia teater dengan lebih serius. Selain berkarir di teater, ia juga menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan mengambil dua jurusan, yaitu Sosial Politik dan Ekonomi. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Ketertarikan Yati pada teater semakin dalam setelah menikah dengan Suyatna Anirun, seorang tokoh teater modern Indonesia dan pendiri STB. Kehidupan Yati di dunia teater semakin kaya, dan hingga kini, di usianya yang ke-80, ia tetap aktif berperan dalam berbagai pertunjukan.

Awal Perjalanan di Dunia Teater

Yati mengingat bahwa perjalanannya di dunia teater dimulai ketika ia diajak oleh Pak Raden (Suyadi) untuk bermain dalam lakon "Badak-badak" pada tahun 1965. Sejak saat itu, ia merasa terjerumus dan terikat dalam dunia teater, yang ia geluti dengan penuh dedikasi hingga saat ini.

Perkenalan penulis dengan Yati SA bermula dari unggahan artikel lawas di media sosial yang menyoroti sosok Suyatna Anirun ketika masih muda. Artikel tersebut ditulis dalam Lembaran Minggu Pikiran Rakjat edisi 4 Agustus 1957, yang menampilkan Suyatna sebagai pemain drama muda berbakat, sebelum akhirnya menjadi suami dari Yati.

Melalui pertemanan dengan pegiat teater, Kemal Ferdiansyah, yang merupakan murid Yati dan Pak Suyatna, penulis akhirnya dapat bertemu langsung dengan Yati dalam sebuah pertunjukan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Penampilan Yati di atas panggung selalu memukau, dengan totalitas dan kekuatan vokal yang tetap terjaga meskipun telah berkarir sejak 1968.

Pertunjukan dan Karya

Yati tidak hanya berbakat dalam berakting, tetapi juga mahir dalam tari Jawa, meskipun ia berhenti menari di usia 40 tahun. Menurutnya, dunia teater adalah panggilan hidup yang menuntut totalitas. Setiap kali berperan, Yati menyatu dengan tokoh yang ia perankan, bahkan setelah pertunjukan berakhir, ia memerlukan waktu untuk kembali ke dirinya sendiri.

Yati tetap konsisten di dunia teater, meskipun banyak tawaran dari dunia sinetron atau film. Baginya, teater menawarkan makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar mengejar materi. Pada pementasan "Pagi Bening" yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-64 STB, Yati tampil sebagai salah satu pemeran utama, menunjukkan dedikasinya yang tiada henti.

Konsistensi dan Kebahagiaan Berkesenian

STB, yang telah berdiri selama 66 tahun, adalah salah satu kelompok teater tertua di Indonesia. Yati merasa bangga bisa menjadi bagian dari komunitas ini dan menyaksikan perkembangannya. Ia percaya bahwa kunci kebahagiaan dalam berkesenian adalah menjalani semua dengan kesungguhan dan cinta. Meskipun kini berusia 80 tahun, Yati tetap tampil memukau dengan vokal yang kuat dan stamina yang terjaga, berkat rutinitas latihan Tai Chi dan olah pernapasan.

Pesan untuk Generasi Penerus

Di tengah perjalanan panjangnya di dunia teater, Yati memiliki harapan untuk generasi penerus. Ia ingin agar mereka yang terjun ke dunia teater dapat menekuni seni ini dengan penuh kesungguhan dan komitmen. Menurutnya, konsistensi adalah kunci untuk menemukan jati diri dan mencapai kebahagiaan dalam berkesenian. Sugiyati Suyatna Anirun telah menunjukkan bahwa seni panggung adalah panggilan hidup yang tak lekang oleh waktu, dan semangatnya dalam berkarya terus menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan warisan teater yang penuh makna.