Membedah Stereotipe Orang Batak dalam Novel 'Catatan Harian Menantu Sinting'
Sumber Foto: sumut.idntimes.com
Catatan Harian

Membedah Stereotipe Orang Batak dalam Novel 'Catatan Harian Menantu Sinting'

Film Catatan Harian Menantu Sinting, yang dibintangi oleh Ariel Tatum sebagai Minar dan Raditya Dika sebagai Sahat, merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang dirilis pada Februari 2018. Novel ini mengangkat tema kehidupan suku Batak, suku terbesar ketiga di Indonesia, dan menawarkan pandangan menarik tentang dinamika keluarga dan budaya Batak.

Cerita ini berfokus pada Minar, yang setelah menikah, harus hidup satu rumah dengan mertua, Piktoria Purba. Kehidupan sehari-hari Minar di tengah keluarga Batak sering kali penuh dengan keributan dan situasi lucu, yang menggambarkan karakter dan kebiasaan orang Batak. Penulis novel, Rosi L. Simamora, yang memiliki latar belakang Batak, mengisahkan pengalamannya berinteraksi dengan Mamak Mertuanya serta orang-orang Batak lainnya.

Stereotipe Orang Batak dalam Novel

Berikut enam stereotipe yang muncul dalam novel ini:

  • Bicara blak-blakan, ketawanya keras: Mamak Mertua Minar dikenal dengan gaya bicara yang langsung dan tanpa tedeng aling-aling. Hal ini kerap membuat Minar merasa kesal, terutama saat Mamak Mertua berbicara tentang ambisinya dengan sangat terbuka.
  • Cowok Batak susah mengekspresikan perasaan: Minar mencatat bahwa suaminya, Sahat, termasuk tipe pria Batak yang sulit mengungkapkan perasaan. Meskipun peduli, Sahat cenderung malu untuk menyatakan cinta secara langsung.
  • Suka makan anjing: Mamak Mertua memiliki kebiasaan memasak daging anjing, yang menimbulkan konflik dengan Minar, seorang aktivis pecinta anjing yang menolak menganggap anjing sebagai makanan.
  • Memiliki wajah kotak: Minar menyebutkan bahwa banyak orang Batak memiliki wajah yang cenderung kotak. Namun, ia menyadari bahwa Mamak Mertua memiliki ciri fisik yang berbeda dari stereotipe tersebut.
  • Pintar bernyanyi: Meskipun banyak orang Batak dikenal memiliki bakat menyanyi, Mamak Mertua justru dikenal tidak memiliki kemampuan yang baik dalam bernyanyi, yang mengejutkan Minar ketika Mamak Mertua berniat mengikuti seleksi paduan suara.
  • Menghindari menikah beda suku: Mamak Mertua menolak calon menantu yang berasal dari suku Jawa untuk anaknya, Sahat, dan berpendapat bahwa seharusnya anak-anaknya menikah dengan sesama orang Batak.

Stereotipe yang diangkat dalam novel ini bukanlah gambaran dari semua individu Batak, melainkan cerminan dari beberapa karakter dan situasi yang mungkin dialami. Novel ini juga menyampaikan pesan yang lebih luas tentang penerimaan dan keberagaman dalam hubungan antar suku. Bagi pembaca yang tertarik dengan tema ini, novel Catatan Harian Menantu Sinting menawarkan perspektif yang menarik.