Mang Jaya: Pelestari Budaya Dongeng Sunda di Era Digital
Di tengah dinamika zaman yang kian cepat, suara lembut seorang maestro, Mang Jaya, tetap mengalun merdu dari tanah Sunda. Suara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyimpan makna yang dalam, menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Mang Jaya, yang dikenal sebagai pendongeng enteng, telah memelihara warisan lisan Sunda selama lebih dari 50 tahun.
Bernama asli Kuswadijaya Jamsari, Mang Jaya lahir pada 25 Agustus 1945 di Cigugur, Kuningan. Sebagai anak sulung dari pasangan Warsih dan Jamsari, ia mulai menekuni dunia penyiaran sejak tahun 1968 di berbagai radio amatir, sebelum mendirikan Radio Siaran Linggarjati Utama (Rasilima) pada tahun 1976. Dari sinilah lahir program legendaris “Dongeng Enteng Mang Jaya”, yang kini menjadi salah satu ikon dalam pelestarian dongeng Sunda.
Masa Keemasan Dongeng Sunda
Pada era 1980-an hingga 1990-an, ketika televisi belum menjadi media utama, dongeng Sunda berfungsi sebagai pengikat emosional masyarakat. Suara Mang Jaya dan pendongeng lainnya, seperti Abah Kabayan dan Haji Dulacis, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menyampaikan kearifan lokal melalui cerita yang menarik. Dongeng-dongeng ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai etika dan budaya kepada pendengarnya.
Program “Dongeng Enteng Mang Jaya” berhasil menciptakan jembatan kultural yang menghubungkan berbagai generasi. Dengan kisah-kisah yang kaya akan imajinasi, program ini telah tercatat hak ciptanya di Kementerian Hukum dan HAM RI, menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya ini.
Transformasi Digital
Seiring perkembangan zaman, Mang Jaya tidak hanya berdiam diri. Di usia senjanya, ia melangkah ke dunia digital dengan menghadirkan dongengnya di platform YouTube melalui kanal @MangJayaOfficial. Program ini telah mendapatkan sambutan luas dengan lebih dari 56 juta tayangan dan 112.000 subscriber. Berbagai judul populer seperti “Akibat Tina Kahayang” dan “Jawara Gunung Manglayang” menjadi favorit di kalangan penonton dari berbagai usia.
Penghargaan dan Pengakuan
Prestasi Mang Jaya dalam dunia dongeng tidak luput dari pengakuan. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Lifetime Achievement dari KPID Jawa Barat pada tahun 2017 dan Kuningan Award sebagai Penggiat Literasi Lisan pada tahun 2022. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai Anggota Dewan Pengawas PRSSNI Pusat untuk periode 2023–2027.
Warisan Budaya yang Hidup
Di usianya yang hampir 80 tahun, Mang Jaya masih aktif mendongeng dan menjalani hidup sehat dengan bersepeda dan berkebun. Ia percaya bahwa ibadah, syukur, dan aktivitas fisik adalah kunci untuk tetap bugar. Menghidupkan kembali kekuatan budaya lisan adalah misi yang terus ia jalankan; ia percaya bahwa dongeng bukan hanya milik anak-anak, tetapi juga bagi semua orang yang menghargai kekayaan budaya.
Dengan dedikasinya, Mang Jaya menjadi simbol pelestarian budaya Sunda di tengah arus modernisasi. Melalui kisah-kisahnya, ia mengajak kita untuk kembali merenungkan akar budaya yang mulai terlupakan. Suaranya akan terus bergema, tidak hanya di radio dan YouTube, tetapi juga di hati masyarakat Sunda yang mencintai budayanya.




