Konflik Nexperia dan China Ancaman Baru Krisis Rantai Pasok Chip
Jurnal News - MAJALAH ICT – Jakarta. Ketegangan antara perusahaan semikonduktor Belanda Nexperia dan unit bisnisnya di China kembali memanas, memicu kekhawatiran akan potensi krisis baru dalam rantai pasok chip global. Pemerintah China bahkan memperingatkan bahwa konflik internal perusahaan tersebut dapat kembali mengganggu pasokan semikonduktor dunia, khususnya bagi industri otomotif.
Perselisihan terbaru muncul setelah kantor pusat Nexperia di Belanda menonaktifkan akses akun kerja karyawan di unit bisnisnya di China. Langkah tersebut memicu gangguan pada sejumlah sistem operasional, termasuk perangkat lunak produksi dan manajemen pesanan yang penting bagi proses manufaktur chip.
Unit China menyatakan bahwa insiden itu sempat menghambat sebagian aktivitas produksi dan memaksa perusahaan menjalankan rencana darurat untuk menjaga operasi dasar tetap berjalan. Meski beberapa fungsi produksi kemudian dipulihkan, peristiwa ini memperlihatkan rapuhnya koordinasi internal perusahaan yang beroperasi lintas yurisdiksi geopolitik.
Kementerian Perdagangan China menilai tindakan tersebut berpotensi memperburuk konflik dan menghambat proses negosiasi antara kedua pihak. Beijing juga memperingatkan bahwa jika konflik ini memicu gangguan baru dalam produksi global semikonduktor, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor industri.
Sengketa kepemilikan dan geopolitik teknologi
Konflik ini berakar dari sengketa kepemilikan dan kontrol perusahaan. Nexperia, yang berbasis di Nijmegen, Belanda, merupakan produsen semikonduktor besar yang memproduksi lebih dari 100 miliar komponen chip setiap tahun dan memasok berbagai industri elektronik serta otomotif.
Perusahaan tersebut dimiliki oleh Wingtech Technology, perusahaan teknologi China yang sebagian dimiliki negara. Ketegangan meningkat sejak pemerintah Belanda pada 2025 sempat mengambil alih pengelolaan Nexperia dengan alasan keamanan nasional dan perlindungan teknologi strategis.
Sebagai respons, pemerintah China memberlakukan pembatasan ekspor terhadap chip yang diproduksi di fasilitas Nexperia di China—yang selama ini menjadi bagian penting dari jaringan produksi global perusahaan. Pembatasan tersebut sebelumnya telah memicu kekhawatiran gangguan pasokan chip bagi industri otomotif di Eropa dan Amerika Serikat.
Risiko bagi industri otomotif dan elektronik
Analis industri memperingatkan bahwa konflik yang kembali memanas dapat memicu efek domino dalam rantai pasok semikonduktor global. Chip produksi Nexperia digunakan secara luas dalam sistem elektronik kendaraan, perangkat daya, serta berbagai peralatan industri.
Ketika pasokan chip terganggu pada fase awal sengketa pada 2025, sejumlah produsen mobil global dilaporkan menghadapi risiko penghentian produksi akibat keterbatasan komponen semikonduktor.
Kini, eskalasi terbaru memperkuat kekhawatiran bahwa konflik korporasi yang dipicu rivalitas geopolitik dapat kembali memicu ketidakstabilan pasar chip—sektor yang sudah rentan sejak krisis semikonduktor global pada awal dekade ini.
Jika negosiasi antara pihak Belanda, China, dan manajemen perusahaan gagal meredakan ketegangan, para pengamat memperingatkan bahwa gangguan produksi di fasilitas Nexperia dapat kembali menjalar ke industri otomotif, elektronik konsumen, hingga sektor manufaktur global.




