Jejak Riadi Darwis dalam Gastronomi, Rasa, dan Budaya
Di tengah perkembangan zaman yang kian cepat dan praktis, masih ada individu yang dengan tekun menjaga dan merawat warisan budaya, salah satunya adalah Riadi Darwis. Sosok yang berasal dari Priangan ini bukan hanya seorang penikmat kuliner, melainkan juga seorang akademisi dan peneliti yang berperan penting dalam melestarikan gastronomi tradisional Sunda.
Riadi Darwis, lahir di Garut pada 24 Januari 1966, adalah dosen di Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Ia dikenal luas melalui karya-karya bukunya yang mendalam dan komprehensif mengenai makanan dan budaya. Melalui penelitiannya, ia berusaha untuk menggali makna di balik setiap hidangan, menunjukkan bahwa makanan bukan hanya sekadar santapan, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas budaya.
Riadi Darwis memiliki ketekunan yang luar biasa dalam meneliti dan menulis tentang kekayaan kuliner lokal. Lebih dari tiga dekade, ia telah aktif meneliti dan mempromosikan gastronomi tradisional, menjelajahi berbagai daerah untuk mencicipi dan memahami lebih dalam tentang makanan yang menjadi ciri khas masing-masing daerah.
Karya-karya Monumental
Riadi telah menulis banyak buku yang membedah kuliner dan budaya Sunda, di antaranya adalah:
- Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon
- Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik
- Khazanah Lalab Rujak Sambal dan Tektek
- Khazanah Sambara dan Rempah
- Kelana: Antologi Sajak Petingan
- Padungdung: Antologi Sajak Pancawanda
- Berau nan Sanggam
- Ti 2020 ka 2022: Antologi Puisi dan Catatan dalam Bahasa Sunda
Buku-buku tersebut tidak hanya mengungkapkan kekayaan kuliner, tetapi juga berfungsi sebagai dokumen sejarah yang merekam perjalanan budaya Sunda. Karya-karyanya telah tersebar hingga ke berbagai perpustakaan internasional, termasuk di Harvard University dan California University Los Angeles, menandakan pengaruh dan kontribusinya yang signifikan di kancah global.
Acara Bedah Buku
Baru-baru ini, acara bedah buku "Ti 2020 ka 2022" diadakan di Poltekpar NHI Bandung. Riadi Darwis sebagai penulis buku ini menjadi pembicara utama bersama praktisi budaya Sunda dan pustakawan. Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan budayawan, membahas nilai-nilai budaya yang terkandung dalam buku tersebut.
Dokumentasi dan Pelestarian Budaya
Selain menulis, Riadi juga berupaya mendokumentasikan kuliner tradisional yang mulai terlupakan. Ia menyebutkan bahwa terdapat 718 jenis lalapan khas Sunda yang banyak di antaranya telah hilang dari ingatan masyarakat. Ia percaya bahwa setiap hidangan memiliki cerita dan makna yang mendalam, mencerminkan kearifan lokal yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Riadi Darwis bukan hanya seorang peneliti dan penulis, tetapi juga seorang pengembara waktu yang berusaha menghubungkan generasi sekarang dengan warisan leluhur. Dalam pandangannya, kuliner adalah bagian dari identitas dan kekayaan alam yang harus terus dijaga. Ia berharap semangat pelestarian budaya ini dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan menghargai budaya mereka sendiri.
Dengan dedikasi dan visinya, Riadi Darwis telah berhasil mengabadikan rasa dan sejarah dalam karya-karyanya, memberikan kontribusi yang berarti bagi pelestarian budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang terus berkembang.




