Isu Terkini dalam Harian Kompas: Sastrawan, Kesepakatan Strategis, dan Terorisme Maya
Jakarta, SONORA - Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas, Antonius Tomy Trinugroho, mengulas berbagai isu yang menjadi sorotan dalam edisi Harian Kompas pada Senin, 26 Mei 2025. Salah satu headline utama yang diangkat adalah tentang kondisi sastrawan di Indonesia yang dinyatakan tidak bisa hidup hanya dari karya sastra.
Sastrawan Tidak Bisa Hidup dari Sastra
Dalam laporan khusus tersebut, Redaksi Kompas memberikan suara kepada para sastrawan, penulis, dan penyair yang selama ini hidup dalam keterbatasan akibat rendahnya pendapatan dari karya-karya mereka. Menurut Tomy, hasil investigasi menunjukkan rendahnya apresiasi terhadap sastra sebagai salah satu penyebab utama masalah ini. "Apresiasi terhadap karya sastra masih cukup rendah, dan isu terkait royalti juga menjadi faktor yang mempengaruhi," jelasnya.
Tomy juga menyoroti kisah Martin Aleida, seorang sastrawan yang saat ini hidup dalam kondisi memprihatinkan. "Martin Aleida adalah penulis yang cukup baik, terutama dengan karyanya yang berkaitan dengan peristiwa tahun 1965. Namun, ia kini harus hidup dengan sederhana dan menghadapi masalah kesehatan," imbuhnya. Redaksi Kompas berencana untuk melanjutkan pembahasan mengenai sastrawan dalam beberapa hari ke depan.
Nota Kesepahaman Strategis Antara Indonesia dan Cina
Di halaman utama yang sama, Kompas melaporkan mengenai kesepakatan strategis antara Indonesia dan Cina. Presiden Prabowo Subianto baru saja menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Cina, Li Qiang. Kesepakatan ini dianggap penting bagi pembangunan Indonesia, termasuk dalam bidang keamanan di Kawasan Laut Cina Selatan. Tomy menambahkan bahwa sejumlah nota kesepahaman telah ditandatangani, mencakup bidang investasi, rantai pasok, dan perdagangan. "Cina bukan hanya memiliki kemajuan dalam perdagangan, tetapi juga dalam teknologi yang kini bersaing dengan Amerika," ungkapnya.
Terorisme di Jagat Maya Mengintai Remaja
Tomy juga mengangkat isu yang semakin mengkhawatirkan terkait terorisme di dunia maya. Dengan penangkapan terduga teroris di Gowa, Sulawesi Selatan, ia menekankan pentingnya upaya deradikalisasi. "Radikalisasi dan ekstremisme kini lebih banyak disebarkan melalui media digital, yang sulit untuk dipantau. Aksesibilitas digital membuat situasi ini semakin kompleks," jelasnya.




