Industri Hijau sebagai Strategi Bertahan di Tengah Krisis Global
Kesuksesan industri hijau juga diukur dari kemampuannya menciptakan keadilan ekonomi.
Red: Erdy Nasrul
Foto: www.freepik.com
Industri hijau (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang makin mengganas, transformasi industri hijau bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup bagi industri nasional. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memperingatkan dengan keras: industri yang tidak berani berubah sekarang bukan hanya akan kalah bersaing, tetapi berisiko tinggi tergilas sepenuhnya oleh kombinasi ancaman krisis global.
Indonesia saat ini menghadapi tekanan ekonomi global yang kompleks, berupa pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, dan ketegangan geopolitik, seperti persaingan AS-China dan konflik di Ukraina, yang mengacaukan rantai pasok dunia. Kombinasi mematikan ini tidak hanya menekan industri besar, tetapi dampaknya merembes langsung ke tingkat rumah tangga dan petani melalui kenaikan biaya hidup dan produksi yang mencekik.
Baca Juga
Perkuat Ekonomi Desa, Pemkab Penajam Paser Utara Kebut Pendampingan Koperasi Merah Putih
Ekonomi Kreatif Melaju, Menekraf Sebut Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional
Bukan Sekadar Mengajar, Inilah Alasan Dosen Wajib Menghidupkan Penelitian dan Pengabdian
Transformasi Hijau yang Harus Menyeluruh
Dalam kunjungan spesifik ke PT Japfa Comfeed Indonesia di Lampung, Novita mengapresiasi langkah awal pemanfaatan energi surya. Namun, ia menegaskan bahwa industri hijau tidak boleh hanya jadi pencitraan. “Green industry bukan hanya soal panel surya. Ia harus menyentuh manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, dan dampak nyata bagi lingkungan,” tegasnya. Ia mendorong Japfa menjadi pilot project hijau yang menerapkan prinsip keberlanjutan dari hulu ke hilir.
Lebih dari sekadar efisiensi energi, Novita menekankan bahwa kesuksesan industri hijau juga diukur dari kemampuannya menciptakan keadilan ekonomi. Industri besar didorong untuk tidak bergerak eksklusif, melainkan membuka ruang kolaborasi nyata dengan UMKM dan usaha mikro. Hal ini sejalan dengan semangat kemandirian pangan, agar manfaat transformasi hijau bisa dirasakan hingga ke lapisan ekonomi terbawah. Tanpa aspek keadilan ini, konsep hijau dianggap hanya sebagai jargon belaka.
Komisi VII DPR RI terus mengawal implementasi transformasi ini, menekankan bahwa hanya dengan pendekatan menyeluruh, yang menggabungkan ketangguhan lingkungan, efisiensi ekonomi, dan keadilan sosial, industri nasional bisa bertahan dan unggul di tengah krisis.
Ikuti Whatsapp Channel Republika
sumber : Antara
Advertisement
industri hijau
transformasi hijau
novita hardini
geopolitik
Berita Terkait
Ekonomi - 12 March 2026, 13:13
Pengamat: Dolar AS Jadi Safe Haven di Tengah Perang Amerika-Iran
News - 12 March 2026, 10:04
Malaysia Batalkan Open House dan Batasi Perjalanan Menteri, Antisipasi Gejolak Ekonomi Global
Ekonomi - 10 March 2026, 09:49
Harga Minyak Turun Tajam, IHSG Menguat Ikuti Bursa Global
Ameera - 06 March 2026, 20:35
Kiat Kelola THR Secara Bijak di Tengah Ketidakpastian
News - 06 March 2026, 19:24
Jokowi Ungkap Bahas BoP dengan Prabowo
Khazanah - 06 March 2026, 10:08
Di Momen Ramadhan, Buya Yahya Minta Masyarakat Doakan Prabowo
Ekonomi - 03 March 2026, 13:29
Perang Iran vs AS-Israel Memanas, BI Waspadai Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
Ekonomi - 02 March 2026, 19:14
Prabowo Panggil Bahlil dan Zulkifli Hasan Bahas Potensi Dampak Konflik Timur Tengah
Berita Lainnya
Esgnow - Senin , 16 Mar 2026, 21:19 WIB
Pendekatan Kesehatan Dukung Pemulihan Warga Aceh Tamiang Pascabanjir
Esgnow - Senin , 16 Mar 2026, 21:00 WIB
Nanobank Syariah Gelar Mudik Gratis, Berangkatkan Karyawan dan Nasabah ke Delapan Kota
Esgnow - Senin , 16 Mar 2026, 19:42 WIB
49 Titik Panas Muncul di Riau, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Amankan Jalur Mudik Sumatera
Esgnow - Senin , 16 Mar 2026, 15:14 WIB
Komunitas UMKM Depok Bangun Gerakan Sosial dan Literasi
Esgnow - Senin , 16 Mar 2026, 12:10 WIB
Antrean Truk Sampah Mengular hingga 1,5 Km di TPA Sarimukti




