IAI Ibrahimy Genteng Gelar KKN Tematik Kolaboratif di 26 Desa Banyuwangi, Angkat Tema Pembangunan Keluarga
Sumber Foto: TIMES Banyuwangi
Catatan Harian

IAI Ibrahimy Genteng Gelar KKN Tematik Kolaboratif di 26 Desa Banyuwangi, Angkat Tema Pembangunan Keluarga

BANYUWANGI – Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diikuti sekitar 422 mahasiswa. Para peserta disebar ke 26 desa di 20 kecamatan di Banyuwangi.

Program KKN kali ini mengusung gagasan tematik kolaboratif. Bentuk tersebut dipilih dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan yang disebut hanya 40 hari, serta ketersediaan disiplin ilmu dan sumber daya mahasiswa.

Tema yang dipilih adalah “Pembangunan Keluarga”, yang dipandang sebagai unit terkecil dari pembangunan negara. Tema ini disebut diselaraskan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, di antaranya peningkatan kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM), pertumbuhan ekonomi inklusif, dan penurunan kemiskinan.

Fokus isu dan peran mahasiswa

Dalam pelaksanaannya, KKN ini diarahkan untuk mendukung Tri Dharma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mengelaborasi pengetahuan, keterampilan, dan keilmuan mahasiswa ke dalam isu-isu pembangunan keluarga.

Sejumlah persoalan yang disorot antara lain isu stunting dan faktor terkait, seperti angka kesakitan pada anak, anemia pada remaja putri, penyimpangan seks pada remaja dan pernikahan usia dini, serta angka kematian ibu dan bayi. Selain itu juga disebutkan persoalan jeratan rentenir pada pelaku usaha mikro skala rumah tangga, sanitasi yang buruk, dan persoalan sampah yang belum tertangani secara komprehensif.

Disebutkan bahwa keseluruhan persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan mahasiswa seorang diri karena keterbatasan sumber daya. Karena itu, peran mahasiswa dalam KKN ini lebih diposisikan sebagai fasilitator, bukan sebagai pelaksana proyek dengan dukungan anggaran besar sebagaimana program pendampingan profesional.

Pelaksanaan di masa pandemi dan pendekatan PRA

KKN tetap dilaksanakan pada masa pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Dalam pelaksanaannya, KKN menekankan pemahaman bahwa social distance tidak dimaknai sebagai sikap acuh, melainkan sebagai upaya menjaga solidaritas, gotong royong, serta memperkuat relasi dalam keluarga dan masyarakat.

Mahasiswa juga didorong menggunakan berbagai metode dan pendekatan, termasuk Participatory Rural Appraisal (PRA). Dalam pendekatan tersebut, prinsip yang ditekankan mencakup berbagi pengalaman, keterlibatan masyarakat, penerapan konsep triangulasi, serta keberlanjutan program.

Melalui PRA, warga dilibatkan untuk mengidentifikasi kerentanan dan potensi, menentukan pihak-pihak yang bisa terlibat dalam penyelesaian masalah, serta menyusun skala prioritas persoalan yang dapat ditangani secara mandiri, bersama-sama, maupun melalui rencana program pemerintah desa.

Dokumentasi akademik dan orientasi ketahanan keluarga

Secara akademik, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab mendokumentasikan seluruh kegiatan KKN dalam bentuk laporan dan artikel yang dapat digunakan sebagai referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk dalam bentuk rekomendasi untuk perbaikan kebijakan pemerintah.

Orientasi tema pembangunan keluarga diarahkan pada ketahanan keluarga yang memiliki lima dimensi, yaitu:

  • ketahanan struktural,
  • ketahanan fisik,
  • ketahanan ekonomi,
  • ketahanan sosial psikologis,
  • ketahanan sosial budaya.

Ketahanan tersebut ditandai dengan menguatnya kepedulian dan perhatian antaranggota keluarga serta lingkungan sekitar, mulai dari kakek-nenek, orang tua, anak, tetangga, hingga masyarakat. Indikator lain yang disebut meliputi pergaulan remaja yang sehat, usaha keluarga yang dikelola dengan rencana bisnis yang baik, lingkungan rumah dan sanitasi yang terjaga dari penyakit, ketersediaan air bersih, serta keberadaan tanaman obat.

Namun, pencapaian indikator ketahanan keluarga itu disebut tidak dapat berlangsung instan dan tidak bisa diselesaikan hanya oleh mahasiswa.

Sinergi program desa melalui Bengkel Sakinah

Karena itu, sejak awal KKN ini memilih menguatkan program yang telah ada di desa-desa, yakni Bengkel Sakinah. Program ini diposisikan sebagai layanan yang ditumbuhkembangkan melalui sinergi dengan lembaga kemasyarakatan desa, seperti RT, RW, PKK, Posyandu, Karang Taruna, dan LPMD, termasuk penyediaan kader-kader sebagai ujung tombak pemberdayaan keluarga di desa.