Hotel Jadi Destinasi Utama Wisatawan Lokal Pasca Pandemi
Sumber Foto: Jurnal Ngawi
Jurnal Utama

Hotel Jadi Destinasi Utama Wisatawan Lokal Pasca Pandemi

NGAWI PIKIRAN RAKYAT - Pandemi Covid-19 telah mengubah peta perilaku perjalanan masyarakat secara fundamental. Jika dahulu hotel hanya dianggap sebagai tempat persinggahan untuk melepas lelah di sela-sela jadwal wisata yang padat, kini fungsi tersebut telah bergeser. Menurut survei Travel in 2021 dari platform digital Agoda, masyarakat kini cenderung memilih akomodasi sebagai destinasi itu sendiri, di mana pengalaman menginap menjadi menu utama dalam perjalanan mereka.

Fenomena ini melahirkan lima cara baru orang Indonesia dalam berwisata. Masyarakat kini lebih gemar melakukan perjalanan jarak dekat atau staycation, menjelajahi destinasi lokal yang belum pernah terjamah, hingga mencari pengalaman unik sebagai bagian dari paket akomodasi. Tren ini menunjukkan bahwa keinginan untuk bepergian tetap tinggi, namun dengan pendekatan yang lebih personal dan eksploratif terhadap lingkungan sekitar.

Menariknya, Indonesia menempati urutan keempat dunia dalam hal wisatawan yang paling antusias mencari pengalaman unik di dalam hotel. Dengan angka mencapai 30%, minat wisatawan domestik melampaui rata-rata global yang berada di angka 26%. Angka ini bersaing ketat dengan negara tetangga seperti Taiwan, Vietnam, dan Thailand yang juga mencatatkan minat tinggi terhadap aspek pengalaman dibandingkan sekadar fasilitas kamar standar.

Ketergantungan terhadap teknologi digital juga semakin nyata. Sekitar 29% wisatawan Indonesia lebih memilih menggunakan agen perjalanan online (OTA) seperti Agoda untuk memburu penawaran terbaik. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan ketiga secara global, membuktikan bahwa efisiensi dan kemudahan dalam membandingkan harga serta fasilitas menjadi prioritas utama bagi pelancong masa kini sebelum memutuskan untuk melakukan reservasi.

Namun, ada karakteristik unik dari wisatawan tanah air dalam hal keuangan. Di tengah keinginan mencari pengalaman, orang Indonesia justru tercatat paling hemat dan kecil kemungkinannya untuk membelanjakan uang secara berlebih (spending more) pada akomodasi, yakni hanya sebesar 7%. Angka ini jauh di bawah rata-rata global sebesar 16%, berbeda dengan wisatawan asal Taiwan atau Malaysia yang cenderung lebih berani merogoh kocek lebih dalam untuk kemewahan ekstra.

Selain soal anggaran, perilaku pemesanan di Indonesia juga dikenal sangat dinamis. Sebanyak 26% wisatawan domestik lebih suka merencanakan perjalanan pada menit terakhir atau last-minute booking. Karakteristik ini menjadi yang tertinggi kedua di kawasan regional setelah Korea Selatan. Hal ini mencerminkan fleksibilitas wisatawan yang sering kali mengambil keputusan bepergian secara spontan tergantung pada ketersediaan waktu dan promosi yang ada.

Melihat tren tersebut, industri perhotelan kini dituntut untuk lebih jeli menangkap keinginan pasar yang haus akan pengalaman namun tetap sensitif terhadap harga. Strategi pemanfaatan teknologi menjadi kunci bagi hotel - hotel dalam negeri untuk meningkatkan okupansi. Tanpa perjalanan internasional yang masif, hotel harus mampu memaksimalkan fasilitas internal mereka seperti restoran, spa, hingga layanan kesehatan untuk menarik minat tamu lokal.

Gede Gunawan, Senior Country Director Agoda Indonesia, menjelaskan bahwa keahlian teknologi dan pemasaran sangat membantu hotel untuk tampil lebih efisien di hadapan konsumen. Melalui berbagai penawaran khusus, wisatawan kini dimanjakan dengan kemudahan membandingkan paket makanan, upgrade kamar, hingga fasilitas check-in lebih awal dalam satu platform. Hal ini dianggap sebagai solusi saling menguntungkan (win-win solution) bagi pengelola properti dan pelanggan.

Bagi pihak hotel, memaksimalkan fasilitas yang ada bukan hanya soal mengisi kamar, tetapi juga meningkatkan utilitas restoran dan dapur yang mungkin selama ini belum optimal. Dengan menawarkan paket menginap yang sudah termasuk voucer makanan atau layanan spa, hotel dapat memberikan nilai tambah yang dirasakan langsung oleh konsumen sebagai sebuah diskon besar, sekaligus menjaga keberlangsungan operasional bisnis di tengah persaingan ketat.