Generasi Muda Jadi Mentor Teknologi bagi Orang Tua di Era Digital
Jurnal News - Mulai dari menyimpan file sederhana hingga mengobrol dengan AI.
"Hei, ke mana perginya file yang baru saja Ibu unduh?", pertanyaan dari ujung telepon membuat Do Le Huy (26 tahun, tinggal di komune Tan Nhut, Kota Ho Chi Minh) tertawa terbahak-bahak. Dia bertanya kepada ibunya ke folder mana dia mengunduh file tersebut, dan menerima jawaban yang tak berdaya: "Ibu juga tidak tahu." Akhirnya, Huy harus beralih ke panggilan video untuk membimbing ibunya melalui proses tersebut dari awal lagi.
Situasi seperti itu bukanlah hal yang asing bagi pemuda kelahiran tahun 2000 dan banyak anak muda lainnya. Dalam konteks di mana teknologi semakin meresap ke setiap aspek kehidupan, mulai dari pembayaran dan komunikasi hingga pekerjaan dan hiburan, banyak orang menjadi "pakar teknologi" yang enggan bagi orang tua mereka.
Bagi Huy, apa yang dia ajarkan kepada ibunya bukanlah keterampilan teknologi yang rumit. Biasanya hanya cara menyimpan dokumen, mengunduh file, atau memposting konten di media sosial. Namun, karena ibunya jarang menggunakannya, ia selalu meminta bantuannya setiap kali membutuhkannya. Panggilan untuk menanyakan cara menggunakan komputer terjadi begitu sering sehingga Huy hampir bisa menebak isi panggilan tersebut begitu ia melihat ibunya menelepon.
Sementara itu, "kurikulum teknologi" Le Thi Khue Quynh (19 tahun, tinggal di Kelurahan Tan Hung, Kota Ho Chi Minh) bahkan lebih modern, berputar di sekitar alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan Gemini.
Quỳnh sering membimbing orang tuanya tentang cara merumuskan perintah untuk menanyakan masalah kehidupan sehari-hari seperti kesehatan, memasak, atau berkebun. Selain mengajari mereka cara menggunakan AI, ia juga mengingatkan mereka untuk memverifikasi informasi daripada mempercayai jawaban yang diberikan begitu saja. "Alat-alat ini membutuhkan pertanyaan yang tepat untuk menghasilkan jawaban yang bermanfaat. Saya juga menyarankan orang tua saya untuk memeriksa kembali informasi tersebut karena AI terkadang dapat memberikan jawaban yang salah," kata Quỳnh.
Ketika teknologi membantu keluarga menjalin ikatan yang lebih erat.
Ibu Huy, Ibu Le Minh Thu, mengatakan bahwa setiap kali ia perlu memperbarui perangkat lunak, memperbaiki kesalahan komputer, atau mempelajari aplikasi baru, putranya selalu menjadi orang pertama yang ia pikirkan. Menurut Ibu Thu, generasi muda memiliki akses dan pembaruan teknologi yang lebih cepat, sehingga mereka seringkali lebih mudah menyelesaikan masalah yang dihadapi orang yang lebih tua.
Bagi Ibu Thu, teknologi tidak menciptakan jarak; sebaliknya, teknologi dapat membantu mendekatkan anggota keluarga. Dengan mengakses sumber informasi baru, aplikasi pembelajaran, atau bentuk hiburan, generasi yang berbeda akan memiliki lebih banyak topik umum untuk didiskusikan.
Alih-alih memandang anak-anak yang belajar teknologi dari orang tua mereka sebagai "pembalikan peran" dalam keluarga, Ibu Thu percaya bahwa itu hanyalah bentuk dukungan timbal balik antar generasi. Orang tua belajar tentang teknologi dari anak-anak mereka sama alaminya dengan orang tua mengajari anak-anak mereka membaca, menulis, atau melakukan aritmatika pertama mereka. Setiap generasi memiliki kekuatan masing-masing, dan dukungan timbal balik merupakan bagian integral dari kehidupan keluarga modern.
Dalam proses membantu orang tua mereka beradaptasi dengan dunia digital, kaum muda juga belajar untuk mendengarkan, memahami, dan lebih mendukung orang-orang yang mereka cintai.
Bagi Huy, tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan kesabaran. "Kehilangan kesabaran terjadi hampir setiap saat," akunya. Tetapi setelah setiap kejadian seperti itu, Huy mengingat tahun-tahun ketika ibunya dengan sabar mengajarinya dan membantunya beradaptasi dengan kehidupan. "Dulu, ibu saya mungkin ingin marah berkali-kali, tetapi dia tetap harus bersabar dengan saya. Sekarang giliran saya untuk mempelajarinya," ujarnya.
Bagi Khue Quynh, hal yang paling menantang bukanlah mengajari orang tuanya cara menggunakan AI, melainkan membantu mereka menjadi lebih terbuka terhadap teknologi baru. Awalnya ragu-ragu, ibunya sering mengajukan pertanyaan yang kurang spesifik, sehingga menghasilkan jawaban yang bukan seperti yang diinginkannya. Setelah hampir sebulan dibimbing oleh putrinya tentang cara merumuskan perintah yang lebih efektif, ibunya menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan sehari-harinya.
Menurut Dr. Bui Viet Thanh (dosen di Fakultas Studi Budaya, Universitas Ilmu Sosial dan Humaniora, Kota Ho Chi Minh), fenomena anak muda menjadi "mentor teknologi" bagi orang tua mereka mencerminkan perubahan cara generasi bertukar pengetahuan dalam keluarga modern.
"Pergeseran peran ini menunjukkan bahwa hubungan antar generasi dalam keluarga menjadi lebih fleksibel dan interaktif secara dua arah. Generasi muda tidak hanya menerima tetapi juga berbagi pengetahuan, sementara orang tua bersedia belajar dari anak-anak mereka," ujar Dr. Thanh.
Menurut Dr. Thanh, interaksi yang tampaknya kecil seperti membimbing anak-anak cara menggunakan telepon, memasang aplikasi, atau berkenalan dengan AI menciptakan peluang bagi orang tua dan anak untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Ini bukan hanya proses pertukaran keterampilan tetapi juga berbagi emosi, yang berkontribusi pada penguatan ikatan dan kepercayaan dalam keluarga.
Dr. Thanh melihat hal ini sangat penting dalam konteks kehidupan modern yang semakin cepat, di mana anggota keluarga terkadang memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berbicara secara langsung. Kaum muda yang menemani orang tua mereka dalam proses mengakses teknologi tidak hanya membantu orang dewasa yang lebih tua beradaptasi dengan lingkungan digital, tetapi juga berkontribusi untuk menjaga hubungan antar generasi, menjadi sistem pendukung untuk membantu orang tua mengakses teknologi dengan benar dan aman.
Jika di masa lalu orang tua membimbing anak-anak mereka memasuki dunia, saat ini banyak anak muda membantu orang tua mereka menavigasi dunia digital. Pembalikan peran ini bukan hanya cerita tentang teknologi, tetapi juga cerita tentang persahabatan, pemahaman, dan pembelajaran bersama antar generasi dalam masyarakat yang berubah dengan cepat.




