Film Titip Bunda di Surga-Mu: Drama Keluarga Penuh Makna di Ramadan
Sumber Foto: NyalaNusantara.com
Hiburan

Film Titip Bunda di Surga-Mu: Drama Keluarga Penuh Makna di Ramadan

Jurnal News - Film Titip Bunda di Surga-Mu mulai menghiasi bioskop Tanah Air sejak 26 Februari 2026 dan langsung menarik perhatian pencinta drama keluarga. Dirilis menjelang Ramadan dan Lebaran, film ini terasa begitu relevan sebagai pengingat tentang makna pulang, pentingnya memaafkan, serta menghargai orang tua selagi masih diberi kesempatan.

Diproduksi oleh RRK Pictures bersama Spectrum Film dan Festival Pictures, film ini merupakan adaptasi dari novel karya Dono Indarto dan Zora Vidyanata. Versi layar lebarnya digarap oleh sutradara Hanny R. Saputra, yang dikenal piawai menyajikan drama emosional dengan sentuhan hangat dan membumi.

Sinopsis: Penyesalan yang Datang di Ujung Waktu

Kisahnya mengikuti tiga bersaudara: Alya (Acha Septriasa), Adam (Kevin Julio), dan Azzam (Abun Sungkar) yang tengah dihimpit persoalan hidup masing-masing. Dalam kondisi terdesak, mereka nekat mengambil tabungan milik sang ibu, Mozza (Meriam Bellina).

Bagi Azzam, tindakan tersebut hanyalah bentuk “mengambil hak warisan lebih awal.” Namun keputusan gegabah itu justru memicu masalah yang lebih besar. Kesehatan Ibu Mozza yang sudah rapuh semakin memburuk. Tanpa diketahui anak-anaknya, sang ibu ternyata menyimpan rahasia besar—ia mengetahui perbuatan mereka, tetapi memilih diam demi cinta.

Konflik pun berkembang menjadi pertarungan batin yang sarat rasa bersalah, luka lama, dan komunikasi yang terputus. Waktu yang semakin sempit membuat mereka dihadapkan pada pertanyaan menyakitkan: masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semuanya?

Performa Akting yang Menggetarkan

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada akting Meriam Bellina yang menjadi pusat emosi cerita. Ia memerankan sosok ibu yang lembut dan tegar, namun menyimpan kepedihan mendalam tanpa perlu banyak dialog. Ekspresi dan gesturnya terasa tulus, sehingga penonton mudah terseret dalam keharuan.

Penampilan Ikang Fawzi sebagai ayah turut memberi sentuhan emosional tersendiri. Meski tampil tidak terlalu dominan, adegan-adegannya meninggalkan kesan kuat.

Sementara itu, chemistry antara Acha Septriasa, Kevin Julio, dan Abun Sungkar sebagai kakak-beradik terasa natural dan hidup. Pertengkaran mereka tampak realistis—dipenuhi ego, tetapi tetap menyiratkan ikatan darah yang sulit diputuskan.

Editor: Lulu