Dian Kencana: Menghidupkan Warna Melalui Puisi dan Lukisan
Dalam dunia seni dan pendidikan, sosok Hj. Dian Kencana, M.Pd., M.M. menjadi salah satu contoh nyata dari dedikasi yang menginspirasi. Lahir di Bandung pada 10 Juni 1970, Dian kini menetap dan berkarya di Purwakarta. Karyanya mencakup puisi, lukisan, dan upaya pelestarian budaya lokal yang menciptakan harmoni di sekelilingnya.
Pendidikan dan Karier
Dian Kencana memulai pendidikan di bidang Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia kemudian melanjutkan studi S-2 Kurikulum dan S-2 Magister Manajer, serta meraih gelar S-3 dalam Pendidikan Seni di UPI Bandung. Dian adalah ibu dari satu putra, Fauzan Muhamad, hasil pernikahannya dengan Ir H Tri Hartono.
Di Purwakarta, Dian memimpin Sanggar Gambar Anak "Kencana" dan aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi. Selain dunia akademis, ia juga terlibat dalam politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta periode 2009-2014 serta aktif di berbagai organisasi, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Purwakarta yang dipimpinnya saat ini.
Perkenalan dan Persahabatan
Perkenalan penulis dengan Dian Kencana dimulai melalui media sosial, khususnya Facebook, setelah penulis mengikuti komunitas HaikuKu Indonesia. Ketertarikan penulis semakin berkembang setelah Dian menerbitkan buku antologi Haiku dan Haiga berjudul "Harmoni Sunyi" pada tahun 2016. Karya tersebut menggambarkan kesederhanaan dalam rangkaian kalimat yang harmonis.
Keduanya saling mendukung dalam berbagai kegiatan, termasuk wawancara di NBS Radio Bandung dan acara Halal Bi Halal komunitas HaikuKu Indonesia.
Dedikasi dalam Seni dan Sastra
Sejak 2015, Dian Kencana aktif mendalami puisi haiku setelah bergabung dengan komunitas HaikuKu Indonesia. Melalui haiku, ia menuangkan pengalaman hidup dan budaya dengan cara yang sederhana namun sarat makna. Selain menulis, Dian juga mencintai fotografi, melukis, dan travelling, yang memperkaya karyanya.
Karya-karyanya, termasuk haiga—perpaduan antara lukisan dan haiku—memberikan pengalaman estetika yang mendalam. Beberapa antologi yang diterbitkannya antara lain "Haiku Dangiang Ki Sunda" (2015), "The Universe Haiku" (2016), dan "Hujan Ilusi" (2021), yang mendapatkan Anugerah Perruas Asnur.
Harmoni yang Terus Mengalun
Perjalanan hidup dan karya Dian Kencana bukan hanya sekadar penciptaan seni, tetapi juga menciptakan harmoni yang mampu menginspirasi banyak orang. Karyanya menunjukkan bahwa seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan alam dan budaya.
Melalui setiap kata dan goresan lukisan, Dian mengajarkan bahwa keindahan selalu ada di sekitar kita, asalkan kita mau merasakannya dengan hati yang terbuka. Semoga jejaknya menginspirasi generasi mendatang untuk berkarya dan membawa perubahan melalui seni dan sastra.




