Catatan Harian yang Menyelamatkan Jenderal Hoegeng dari Fitnah
Sumber Foto: Kompas.com
Catatan Harian

Catatan Harian yang Menyelamatkan Jenderal Hoegeng dari Fitnah

Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Hoegeng Iman Santoso dikenang sebagai sosok tegas, jujur, dan berintegritas. Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 dalam usia 83 tahun.

Dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis (31/8/2006), Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat melontarkan lelucon saat menyinggung pemberantasan korupsi. Menurut Gus Dur, di Indonesia hanya ada tiga polisi yang baik: almarhum Jenderal Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur.

Rajin menulis jurnal harian

Kisah tentang teladan kejujuran Hoegeng juga datang dari kerabat dan koleganya. Dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono (2013), Hoegeng disebut sebagai pribadi yang rajin dan teliti menuliskan jurnal harian dalam sebuah buku berukuran besar.

Catatan itu ditulis tangan, dilengkapi tanggal kejadian, dan memuat bukan hanya pengalaman baik, tetapi juga peristiwa buruk. Kebiasaan tersebut kelak menjadi penolong ketika Hoegeng menghadapi fitnah dari salah seorang rekan di kepolisian.

Dipanggil Soekarno karena tuduhan

Menurut penuturan Suhartono, Hoegeng pernah dipanggil Presiden Soekarno. Presiden ingin meminta klarifikasi mengenai kabar yang menyebut Hoegeng berniat menggulingkan atasannya saat itu, Soetjipto Joedodihardjo, yang menjabat Kapolri sekaligus Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Pangak).

Hoegeng mengaku terkejut dan menanyakan siapa penyebar kabar tersebut. Setelah Soekarno menyebut satu nama, Hoegeng meminta agar dirinya dikonfrontasi dengan orang yang menuduhnya. Presiden menyetujui dan menjadwalkan pertemuan untuk mempertemukan keduanya.

Catatan rinci jadi bukti

Saat pertemuan konfrontasi berlangsung, Hoegeng membawa buku besar catatan hariannya. Di hadapan Presiden, ia membenarkan bahwa orang yang bersangkutan memang pernah mendatanginya, baik di kantor maupun di rumah.

Hoegeng kemudian menyampaikan secara rinci tanggal pertemuan dan isi pembicaraan, termasuk ajakan untuk menggulingkan Soetjipto. Dalam catatan itu, Hoegeng menegaskan ia menolak ajakan tersebut.

Ia menyatakan tidak bersedia ikut mendongkel atasannya selama Soetjipto masih menjadi atasan, apa pun alasannya. Hoegeng juga meminta agar fakta tidak diputarbalikkan, sembari membacakan dan menunjukkan catatan itu kepada Presiden dan pihak yang menuduhnya.

Presiden Soekarno kemudian menanyakan kebenaran penjelasan Hoegeng kepada orang tersebut. Polisi itu menjawab, “Inggih Kasinggian (ya betul).” Soekarno menegurnya dan menganggap persoalan selesai.

Dengan alasan tidak ingin mempermalukan pihak lain, orang yang mengetahui cerita ini disebut tidak mengungkap identitas pihak yang sempat menuduh Hoegeng.

Catatan yang tak sempat diselamatkan

Sejarah kemudian mencatat, setelah masa jabatan Soetjipto Joedodihardjo berakhir, Hoegeng ditunjuk sebagai penggantinya. Hoegeng menjabat sebagai Kapolri ke-5 pada periode 1968 hingga 1971.

Masih menurut Suhartono, salah satu anak Hoegeng, Didit, mengatakan buku besar itu kerap dibacakan Hoegeng kepada anak-anaknya. Didit menyebut kebiasaan tersebut sebagai cara untuk belajar dan memahami apa yang telah dilakukan setiap saat.

Namun, catatan harian itu tidak dapat diselamatkan. Buku-buku tersebut kehujanan dan rusak ketika Hoegeng pindah rumah dari Jalan Madura, Menteng, ke Depok, Jawa Barat.