Buku Harian Perempuan Afghanistan Pasca Penguasaan Taliban
Pada 15 Agustus 2021, Taliban mengambil alih Kabul, menandai awal dari perubahan drastis bagi perempuan Afghanistan. Lima perempuan berbagi pengalaman mereka melalui buku harian yang menggambarkan dampak dari peristiwa tersebut.
15 Agustus - 'Hari Penghakiman'
Maari, seorang mantan tentara dengan jabatan tinggi, berangkat ke kantor hanya untuk menemukan suasana sepi. Ketika dia diminta untuk memulangkan semua karyawan perempuan, Maari menolak untuk pergi, mengatakan, "Selama rekan laki-laki tetap bertahan dan bekerja, saya akan tetap di sini." Namun, tidak lama kemudian, kementerian ditutup dan semua karyawan diminta pulang. Di tempat lain, Khatera, seorang guru geografi, mendapati kelasnya dihentikan di tengah laporan bertentangan tentang keberadaan Taliban. Dia menyaksikan kekacauan di jalanan, merasakan kepanikan yang melanda.
4 September - Protes Perempuan
Wahida Amiri, seorang lulusan hukum, merasa marah melihat banyak orang pergi meninggalkan Afghanistan. Setelah dilarang bekerja, dia dan beberapa perempuan lainnya berkumpul untuk memprotes ketidakadilan. Namun, protes mereka dihadang oleh tentara Taliban yang menggunakan gas air mata untuk membubarkan mereka.
7 September - 'Saya Tidak Takut dengan Senjata Anda'
Wahida kembali turun ke jalan untuk menyerukan gencatan senjata setelah Taliban mengumumkan kemenangan di Lembah Panjshir. Dia berani menentang tentara Taliban yang mengancamnya, menegaskan bahwa dia tidak akan pulang untuk memasak.
25 September - Patah Hati
Khatera diundang untuk kembali mengajar, tetapi saat tiba di sekolah, semua guru perempuan diperintahkan pulang tanpa penjelasan. Kecewa dan penuh harapan, dia menangis saat menatap kelasnya.
27 Oktober - 'Mereka Mencari Kami'
Maari dan rekan-rekannya yang merupakan mantan tentara bersembunyi dari Taliban yang mencari mereka. Maari merasa terancam dan terisolasi, mengingat statusnya sebagai bagian dari komunitas Syiah Hazara yang rentan.
5 November - Menunggu Dievakuasi
Zala, seorang mahasiswa, terus menunggu kabar tentang evakuasi. Dengan rutinitas menyiapkan barang-barang untuk evakuasi yang tidak kunjung terjadi, dia merasa kehilangan harapan.
23 November - 100 Hari Berlalu
Seratus hari setelah Taliban menguasai Afghanistan, perempuan masih dilarang pergi ke sekolah menengah dan banyak yang kehilangan pekerjaan. Khatera dan Mahera berjuang untuk mendukung keluarga mereka di tengah krisis ekonomi yang semakin parah.
6 Desember - Hidup Terhenti
Wahida terus memperjuangkan hak perempuan meski merasa lelah. Maari berhasil keluar dari Kabul, sementara Khatera dan Mahera menghadapi keputusan sulit dalam hidup mereka. Zala merasa semakin putus asa, meragukan kemungkinan evakuasi.




