Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Capai Omzet Rp 1 Triliun
Sumber Foto: Disway
Catatan Harian

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Capai Omzet Rp 1 Triliun

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi salah satu universitas Islam di Indonesia yang mencatatkan omzet mencapai Rp 1 triliun. Sebelumnya, institusi ini dikenal dengan nama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syahid sebelum bertransformasi menjadi universitas dan berganti nama menjadi UIN Syahida.

Di bawah naungan UIN Syahida, terdapat fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Syahida yang terdiri dari tiga unit, termasuk satu di kompleks asrama haji Pondok Gede. Rumah sakit ini dibangun dengan bantuan dana dari Arab Saudi setelah tragedi Mina tahun 1990 yang menewaskan 1.426 jemaah haji Indonesia. Selain itu, kampus ini juga memiliki hotel bernama Syahida Inn, yang saat ini sedang dalam proses perluasan.

Dengan jumlah mahasiswa mencapai 34.000, UIN Syahida berencana untuk meningkatkan jumlah tersebut melalui pengembangan program vokasi. Universitas negeri, termasuk UIN, saat ini berusaha keras untuk menarik lebih banyak mahasiswa baru.

Rektor UIN Syahida, Prof. Dr. Asep Saipudin Jahar, mengungkapkan ambisi universitas ini untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) mengikuti jejak institusi terkemuka lainnya seperti UI, ITB, UGM, dan Universitas Terbuka. Dalam diskusi mengenai masa depan UIN Syahida, Prof. Asep menegaskan, "Skala keinginan untuk menjadi PTNBH sangat besar, mencapai sepuluh dari sepuluh." Ia yakin bahwa bersama dengan UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang, mereka dapat mencapai tujuan ini.

Prof. Asep, yang merupakan alumni Pondok Modern Gontor, memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, termasuk gelar S-2 dari McGill University, Kanada, dan gelar doktor di bidang bahasa Arab dan filologi dari Leipzig, Jerman.

Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana menyeimbangkan aspek ibadah dengan bisnis, mengingat banyak lembaga pendidikan Islam yang mengalami kesulitan dalam hal ini. Prof. Asep menekankan pentingnya menetapkan persentase tertentu dari hasil bisnis untuk beasiswa bagi keluarga kurang mampu, agar pendidikan tetap terjangkau.

Dalam perkembangan terkini, terjadi pergeseran minat mahasiswa, di mana semakin banyak yang memilih jurusan duniawi dibandingkan jurusan ukhrowi. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah mahasiswa dari kalangan kurang mampu yang memilih prodi non-agama.

Diskusi yang berlangsung di kampus berakhir dengan agenda penting berikutnya, yaitu pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jenderal Sjafrie Syamsuddin.