Program MBG Dorong Kesejahteraan Industri Unggas Lokal di Tengah Persaingan Global
Sumber Foto: Liputan6.com
Sosial

Program MBG Dorong Kesejahteraan Industri Unggas Lokal di Tengah Persaingan Global

Jurnal News - Pemerintah tak boleh membiarkan industri lokal kalah saing terhadap industri global.

Oleh Tim News

Diterbitkan 26 Februari 2026, 16:00 WIB

Share

Copy Link

Batalkan

Perbesar

Tanya apapun tentang artikel ini...

Cari

Paling sering ditanyakan

Apa potensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi industri unggas lokal?

Ancaman apa yang dihadapi industri perunggasan Indonesia?

Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi industri unggas lokal?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi momentum emas untuk meningkatkan kesejahteraan industri lokal unggas. Ia menyebut pemerintah tak boleh membiarkan industri lokal kalah saing terhadap industri global.

"Pemerintah tidak boleh tinggal diam membiarkan industri lokal dihabisi oleh pemain global. Namun, keberpihakan yang dimaksud bukanlah proteksionisme buta yang menutup pintu masuk investasi asing. Keberpihakan yang cerdas adalah menciptakan lapangan bermain yang setara level playing field sambil memperkuat daya saing lokal," kata Singgih dalam keterangannya, Kamis (26/2).

Singgih menyoroti dunia industri perunggasan Indonesia tengah memasuki babak baru yang menegangkan. Sebab, di penghujung tahun 2025, guncangan besar datang dari Asia Tenggara.

Advertisement

Dua raksasa pakan global, De Heus Animal Nutrition asal Belanda dan CJ Feed dan Care asal Korea Selatan, memutuskan untuk bergabung. Menurutnya, akuisisi ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa.

"Kita harus jujur mengakui bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi pekerjaan rumah yang serius. Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mencatat bahwa sepanjang 2025, industri masih dilanda oversupply atau kelebihan pasokan Day Old Chicken (DOC)," kata dia.

Singgih menuturkan hal itu dapat menjadi ancaman dari masuknya pemain global. Ia menilai perusahaan De Heus dapat memproduksi pakan dengan biaya lebih murah.

"Namun, Jika peternak lokal tidak mampu mengejar efisiensi, mereka akan kalah bersaing di pasar sendiri," ujar dia.

Singgih menilai pemerintah harus segera menyelesaikan masalah data dan tata kelola industri. Terutama, kata dia, fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang terjadi berulang setiap tahun menunjukkan bahwa perencanaan di hulu masih lemah. Kebijakan culling DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) yang telah berjalan perlu dievaluasi dan ditegakkan secara konsisten .

"Kemudian, akses peternak kecil terhadap teknologi dan permodalan harus diperluas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah adalah momentum emas. Jika peternak lokal tidak mampu memasok kebutuhan program sebesar ini, maka celah impor akan terbuka lebar," katanya.

Pemda Harus Bergerak

Selanjutnya, pemerintah daerah juga harus bergerak. Ia mencontohkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo tengah menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) 2026–2046 yang fokus pada industri bernilai tambah tinggi dan penguatan IKM.

"Merger De Heus-CJ adalah ujian sesungguhnya bagi ketahanan industri peternakan Indonesia. Yang harus dilakukan adalah memperkuat fondasi, dari hulu pembibitan, efisiensi pakan, hingga tata niaga yang adil," kata dia.

Ia juga mengatakan pemerintah harus hadir sebagai wasit yang adil sekaligus pelatih yang memperkuat tim nasional. Sementara pelaku usaha, baik besar maupun kecil, harus merapatkan barisan.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus aktif memantau praktik monopoli atau predator pricing. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu sejak dini mewaspadai potensi penguasaan pasar yang berlebihan pasca merger ini.

"Yang tidak kalah penting adalah memperkuat organisasi peternak. Selama ini peternak mandiri sering menjadi pihak yang paling dirugikan ketika harga jatuh. Dengan adanya koperasi atau gabungan kelompok tani yang solid, mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat terhadap perusahaan pakan, baik lokal maupun multinasional," ujar dia.

Singgih Januratmoko

MBG

Advertisement

Tim News, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi

Share

Copy Link

Batalkan