Pertumbuhan Kredit Perbankan 2025 Melambat, Tantangan Ekonomi Masih Menghantui
JAKARTA,LOKAWARTA.COM- Kinerja perbankan nasional di 2025 menunjukkan performa yang kurang menggembirakan, pertumbuhan kredit melambat dan nonperforming loan (NPL) meningkat, bahkan tertinggi sepanjang tahun ini.
Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit perbankan nasional 9,69 persen (yoy), melambat dibanding 2024 yang mencapai 10,39 persen. Itu terungkap dalam webinar OJK Institute berjudul Economic Outlook 2026, Kamis (19/02/2026).
“Pertumbuhan kredit terus melambat sepanjang 2024 hingga 2025. Di saat yang sama, angka NPL mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih,” ujar Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi.
Mantan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) itu menilai perlambatan laju kredit perbankan tak hanya terjadi karena faktor likuiditas, tetapi juga faktor struktur sektoral ekonomi domestik yang belum pulih.
Selain itu, pertumbuhan kredit melemah juga imbas akibat tiga sektor penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) negara yang melemah. Yakni manufaktur, pertanian, dan perdagangan yang tercatat mempunyai peran besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan PDB.
“Ketika konsumsi melambat, margin usaha tertekan, ekspansi langsung tertahan. Ini tercermin pada pertumbuhan kredit yang melemah. Artinya, moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Walaupun sudah diguyur dari pemerintah Rp 200 triliun, likuiditas tambahan tetapi sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi kita,” terangnya.
Saat ini, menurut Hery, proyeksi pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter belum mendapat respons baik dari pelaku usaha. Hal tersebut lantaran pelaku usaha cenderung menyikapinya dengan wait and see serta adanya jarak terhadap kebijakan pemerintah dan keputusan bisnis.
“Tantangannya bukan pada supply dana tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan, yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas tambahan tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” jelas Hery.
Bagaimana dengan 2026?
Meski perbankan nasional memasuki 2026 dengan fondasi yang relatif solid, lanjut Hery Gunardi, namun bukan berarti tanpa tantangan. Menurutnya, tantangan utama sektor perbankan yaitu lemahnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha dan rumah tangga.
Hery menjabarkan, berdasarkan data November 2025, industri perbankan berada pada posisi yang solid untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. Itu tercermin dari sisi likuiditas dan pertumbuhan dana pihak ketiga yang kembali menguat hingga double digit sebesar 11,4% (yoy), dengan rasio loan-to-deposit ratio terjaga di kisaran 84 persen. Ini menunjukkan ruang ekspansi kredit yang masih memadai tanpa menimbulkan tekanan pada likuiditas yang berlebihan.
Dari sisi permodalan, lanjutnya, industri perbankan juga mencatatkan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 26%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Buffer modal yang besar ini memberikan daya tahan terhadap potensi risiko sekaligus ruang ekspansi kredit yang lebih prudent dan berkelanjutan.
Meski memiliki likuiditas dan permodalan yang kuat, pertumbuhan kredit hingga Desember 2025 masih berada di level single digit. Angka tersebut memang menunjukkan perbaikan dibandingkan pertengahan tahun, namun belum cukup kuat untuk mencerminkan fungsi intermediasi perbankan yang optimal.
“Pertumbuhan kredit secara year-on-year, posisi Desember 2025 masih di angka single digit, walaupun telah meningkat di Juni 2025. Hal ini menjadi tantangan besar bagi industri perbankan dalam menjalankan fungsi intermediarinya,” ungkapnya.(*)




