Pertumbuhan Ekonomi Luwu Timur Stagnan, Program Bupati Dinilai Gagal
Sumber Foto: koranseruya.com
Sosial

Pertumbuhan Ekonomi Luwu Timur Stagnan, Program Bupati Dinilai Gagal

Jurnal News - MALILI – Meski dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya alam nikel yang melimpah, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Timur pada periode 2025/2026 justru mencatat hasil yang memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan posisi Luwu Timur terjerembab di peringkat kedua terendah se-Sulawesi Selatan.

​Kondisi ini memicu kritik tajam terhadap efektivitas program kerja yang dijalankan oleh pasangan Bupati dan Wakil Bupati, Ibas-Puspa, selama satu tahun terakhir.

​Pertumbuhan Ekonomi Stagnan di Tengah Kelimpahan Nikel

​Banyak pihak menyayangkan predikat “daerah kaya” yang melekat pada Luwu Timur tidak berbanding lurus dengan angka pertumbuhan ekonominya. Berbagai program unggulan yang digulirkan pemerintah daerah sepanjang tahun 2025 dinilai belum mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang signifikan.

​”Sangat ironis, daerah dengan cadangan nikel terbesar justru berada di urutan bawah (ranking kedua terakhir) dalam pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Ini menunjukkan ada yang salah dalam tata kelola dan eksekusi program pembangunan kita,” ujar salah satu pengamat kebijakan publik daerah.

​Program Dinilai ‘Salah Sasaran’

​Kegagalan ini memunculkan tudingan bahwa program-program kerja Ibas-Puspa selama setahun terakhir hanya menyentuh kelompok-kelompok tertentu saja. Ada kesan kuat di tengah masyarakat bahwa kebijakan yang diambil lebih bersifat elitis ketimbang populis.

​Beberapa poin yang menjadi sorotan meliputi:

​Kurangnya dampak ke lapisan bawah: Program kerja belum mampu menyentuh sektor-sektor riil yang melibatkan masyarakat luas seperti pertanian, perikanan, dan UMKM lokal.

​Ketergantungan pada tambang: Pemerintah dinilai terlalu terpaku pada sektor tambang tanpa mampu menciptakan diversifikasi ekonomi yang inklusif.

​Distribusi manfaat: Muncul persepsi bahwa aliran anggaran dan manfaat program hanya berputar di lingkaran kelompok kepentingan, sehingga gagal menciptakan trickle-down effect bagi warga pedesaan.

​Tantangan Menuju Akhir Periode

​Dengan sisa waktu masa jabatan yang ada, pemerintahan Ibas-Puspa dituntut untuk melakukan evaluasi total. Jika tidak ada perobahan strategi yang fundamental, dikhawatirkan kesenjangan ekonomi di Luwu Timur akan semakin lebar, meski angka ekspor nikel terus meroket.

​Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah: apakah akan ada perombakan program yang lebih membumi, ataukah Luwu Timur tetap akan menjadi “raksasa yang tertidur” di dasar klasemen ekonomi Sulawesi Selatan.(***)

Foto:ilustrasi AI