Penyintas Tiananmen Mengingat Tragedi 1989 dan Mengkritik Pemerintah Cina
Sumber Foto: DW
Catatan Harian

Penyintas Tiananmen Mengingat Tragedi 1989 dan Mengkritik Pemerintah Cina

Jurnal News - Pada 4 Juni 1989, tentara Cina menembaki demonstran di Lapangan Tiananmen, menyebabkan ribuan orang tewas. Mantan pemimpin mahasiswa Wuer Kaixi mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut menandai momen kematian demokrasi dan harga mahal yang dibayar oleh rakyat Cina.

Awal Kejadian

Demonstrasi mahasiswa dimulai pada bulan April 1989 sebagai respons terhadap kematian Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina yang proreformasi, Hu Yaobao. Aksi tersebut berkembang menjadi tuntutan akan liberalisasi dan demokrasi yang lebih besar, dengan ribuan mahasiswa mengepung Lapangan Tiananmen dan mendirikan patung Liberty sebagai simbol reformasi. Wuer Kaixi, yang saat itu merupakan mahasiswa, menjadi salah satu pemimpin gerakan, menyerukan aksi mogok makan dan berhasil meyakinkan petinggi partai untuk berdialog dengan para mahasiswa.

Perkembangan

Namun, negosiasi tersebut segera berakhir dengan tindakan represif dari rezim. Tentara menyerbu Lapangan Tiananmen, menggunakan tank dan senjata api, yang mengakibatkan ribuan korban jiwa di pihak demonstran dan petugas keamanan. Hingga kini, tidak ada statistik resmi mengenai jumlah korban, tetapi diperkirakan mencapai 3.000 orang. Setelah tragedi tersebut, Wuer Kaixi melarikan diri dari Cina melalui Hong Kong, Prancis, dan Amerika Serikat, dan akhirnya menetap di Taiwan. Dia kini dilarang untuk kembali ke Cina dan terancam penangkapan jika kembali.

Kondisi Terakhir

Wuer Kaixi terus menyuarakan kritik terhadap pemerintah Cina. Dalam sebuah acara di Tokyo, ia menyampaikan bahwa pemerintahan komunis merupakan ancaman bagi peradaban umat manusia. Ia juga menyoroti perlunya dunia internasional untuk lebih memperhatikan pelanggaran hak asasi manusia di Cina, terutama terhadap kelompok minoritas. Meskipun telah berusaha untuk kembali ke Cina dan siap menghadapi konsekuensinya, Wuer Kaixi masih terhalang untuk bertemu dengan keluarganya. Ia mengungkapkan keinginannya untuk kembali dan memeluk ibunya meskipun ayahnya telah meninggal setahun lalu.