Penutupan Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global Pascaserangan AS-Israel ke Iran
Sumber Foto: Inilah.com
Internasional

Penutupan Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global Pascaserangan AS-Israel ke Iran

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menyebut serangan Israel-AS ke Iran bakal berbuntut panjang. Termasuk penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Akibatnya, distribusi minyak global bakal terganggu ketika Selat Hormuz terganggu pula. Semuanya dipicu kebiadaban AS di bawah Presiden Donald Trump berkolaborasi dengan zionis Israel, menyerang Iran pada Sabtu (26/2/2026).

Asal tahu saja, selat Hormuz adalah jalur laut sempit dan sangat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Posisinya berada di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.

Gangguan distribusi energi global akibat konflik AS-Israel terhadap Iran itu, berpotensi memicu krisis ekonomi. Terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada impor energi. "Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Sehingga, gangguan keamanan dapat berdampak luas terhadap stabilitas energi dunia," kata Bhima kepada Inilah.com, Minggu (1/3/2026).

Bhima menjelaskan, situasi konflik menyebabkan meningkatnya risiko logistik karena sejumlah perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan bagi kapal yang melintas di wilayah konflik. “Kondisi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara,” kata Bhima.

Menurut dia, gangguan distribusi energi global dapat memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, terutama jika konflik berlangsung lama. Ia memperingatkan negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan terdampak. “Jika konflik berlanjut dan meluas, bahkan banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi,” ujarnya.

Bhima menilai ketergantungan tinggi pada impor energi membuat negara berkembang lebih rentan terhadap gejolak harga minyak global dan tekanan nilai tukar.

Diketahui, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menutup jalur vital perdagangan minyak dunia yang terletak di Selatan Iran, yaitu Selat Hormuz.

Penutupan ini sebagai buntut serangan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel yang menewaskan Pimpinan Tinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, pejabat misi Angkatan laut Uni Eropa Apsides mengungkap informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan. Melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, kapal-kapal dilarang melewati kawasan tersebut.