Mulyani Hadiwijaya: Kisah Sukses di Dunia Bakery Tanpa Kredit Bank
Sumber Foto: Disway
Catatan Harian

Mulyani Hadiwijaya: Kisah Sukses di Dunia Bakery Tanpa Kredit Bank

Di tengah riuhnya industri makanan, Mulyani Hadiwijaya, yang akrab disapa Bu Mul, telah menunjukkan bahwa kesuksesan bisa diraih tanpa bergantung pada kredit bank. Pemilik Dea Bakery, yang berlokasi di Kepanjen, Malang, ini mengelola 12 outlet dalam dua tahun terakhir dengan pertumbuhan yang mengesankan.

Dalam kunjungan ke pabrik Dea Bakery, saya bersama 36 pengusaha kecil-menengah dari berbagai kota di Indonesia, diundang oleh Disway Malang untuk mengunjungi beberapa UMKM inspiratif. Kunjungan ini menyoroti pentingnya melihat potensi usaha di tingkat lokal, bukan hanya bergantung pada pasar luar negeri.

Awalnya, Bu Mul membuka toko bahan kue di sebuah ruko dekat stadion Kanjuruhan. Dari menjual bahan kue, ia mulai membuat kue sendiri, dengan donat sebagai produk pertama yang dijual setelah melihat anak-anaknya menyukai makanan tersebut. Sejak itu, Dea Bakery berkembang dengan ratusan jenis produk roti.

“Dea itu nama anak bungsu saya,” ungkap Bu Mul, yang kini telah memiliki enam cucu dari tiga anaknya.

Menariknya, Bu Mul memilih untuk tidak menggunakan kredit bank untuk ekspansi. Ia lebih memilih untuk mengembangkan usaha dengan modal sendiri. Semua outlet yang dibuka merupakan milik pribadinya atau anak-anaknya. Ia percaya bahwa banyak usaha di lapisan bawah yang sebenarnya bankable, meskipun sering kali bank menganggap sebaliknya.

Bu Mul dikenal dengan penampilannya yang syar'i, mengenakan abaya dan kerudung hitam. Dalam pabriknya, ia menerapkan prinsip kebersihan dan kesehatan yang ketat. Selain itu, setiap karyawan diwajibkan untuk mengambil cuti khusus dua minggu dalam setahun untuk memperdalam agama dan membaca Al-Qur'an secara bergiliran.

Ketika ditanya mengenai sikapnya yang enggan mengambil kredit bank, Bu Mul menjawab, “Mungkin hanya karena saya wanita. Lebih banyak pakai otak kiri.” Ia juga berbagi pandangannya tentang kehidupan, “Saya ini orang yang selalu hidup di bawah garis kemampuan. Dulu, ketika uang saya sedikit, saya sudah merasa cukup. Kini uang saya banyak, juga hanya merasa cukup.”

Meski telah berhasil membuka banyak outlet baru, Bu Mul tidak terburu-buru dalam ekspansi. Ia pernah memilih untuk tidak membuka outlet baru selama beberapa tahun untuk fokus pada perbaikan internal Dea Bakery.

Kisah Bu Mul adalah contoh nyata dari semangat kewirausahaan yang tak kenal menyerah. Dengan latar belakang sebagai Tionghoa, ia menunjukkan bahwa identitas tidak menghalangi kesuksesan dalam berbisnis. “Siapa yang sudah pernah merasakan bangkrut?” tanyanya, dan banyak pengusaha mengangkat tangan. Bu Mul mengaku pernah mengalami kebangkrutan hingga delapan kali, namun ia selalu bangkit kembali.

Dengan keberhasilan yang diraihnya, Bu Mul membuktikan bahwa mental seorang pengusaha sejati adalah kemampuan untuk bangkit meski terjatuh. Melalui Dea Bakery, ia tidak hanya menyediakan produk berkualitas, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan inspirasi bagi banyak orang.