Menyusuri Jejak Budaya Melalui Lensa: Kisah Ati Bachtiar
Sumber Foto: BandungBergerak.id
Catatan Harian

Menyusuri Jejak Budaya Melalui Lensa: Kisah Ati Bachtiar

Di balik setiap jepretan yang memukau, terdapat kisah tentang keberanian, ketekunan, dan cinta terhadap dunia visual. Ati Bachtiar merupakan contoh nyata bahwa fotografi lebih dari sekadar menangkap gambar, tetapi juga merekam jiwa. Dengan kamera di tangan dan tekad yang kuat, ia menjalani perjalanan panjang sebagai fotografer yang penuh dedikasi.

Profil Ati Bachtiar

Ruh Hayati, lebih dikenal sebagai Ati Bachtiar, lahir di Bandung pada 20 Januari 1969. Ia adalah putri dari pasangan almarhumah Atit Wasilah Maulany dan almarhum A. H. Widjajabrata, seorang perwira TNI AD. Ati menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra, Program Studi Bahasa Prancis Universitas Padjadjaran pada tahun 1995. Selain dikenal sebagai fotografer, ia juga merupakan pelukis kaca dan pelestari budaya.

Pada tahun 1992, Ati menikah dengan Ray Bachtiar Dradjat, seorang fotografer senior dan pendiri RBS Studio serta Komunitas Lubang Jarum Indonesia. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, Tubagus Raka dan Ratu Adina Bachtiar. Dari Ray, Ati belajar tentang dunia fotografi, yang kemudian menjadi jalan hidupnya.

Pencarian Budaya Melalui Etnofotografi

Kecintaan Ati pada keragaman budaya Indonesia membawanya ke pedalaman Kalimantan, di mana ia bertemu dengan perempuan Dayak yang menjaga tradisi telinga panjang. Pertemuan ini menjadi titik awal proyek etnofotografi jangka panjang yang menjadi ciri khas karyanya. Ia juga menghasilkan beberapa buku dari penelitiannya.

  • Buku Pertama: Telinga Panjang: Mengungkap yang Tersembunyi (2016) - Memuat 43 foto perempuan Dayak dengan tradisi telinga panjang dan 11 potret perempuan yang telah memotongnya, mencerminkan pergeseran zaman.
  • Buku Kedua: Jejak Langkah Telinga Panjang (2019) - Memperluas dokumentasi ke pesisir Kalimantan, menampilkan 42 foto perempuan bertelinga panjang.
  • Buku Ketiga: Melacak Jejak Telinga Panjang (2024) - Merefleksikan 78 potret perempuan bertelinga panjang, yang merupakan generasi terakhir pewaris budaya Dayak.

Ikatan Khusus dengan Yeq Lawing

Salah satu perempuan Dayak yang menjadi fokus Ati adalah Yeq Lawing, yang merupakan generasi terakhir dari tradisi telinga panjang. Pertemuan pertama mereka terjadi pada Oktober 2016 di ladang dekat Sungai Mahakam dan sejak saat itu, hubungan mereka menjadi erat. Yeq mengangkat Ati sebagai anak dan memberinya nama Dayak: Buaq. Melalui Yeq, Ati menemukan sosok perempuan yang kuat, anggun, dan penuh makna.

Yeq Lawing, meski hidup dalam keterbatasan, memiliki kebiasaan menulis catatan harian dan berperan penting dalam masyarakat adatnya. Ia memperjuangkan pengakuan tanah ulayat leluhurnya, serta menjadi teladan bagi Ati dalam menjaga budaya.

Komitmen dan Pengakuan Profesional

Ati Bachtiar adalah fotografer profesional bersertifikat yang aktif dalam berbagai komunitas dan telah menerima sejumlah penghargaan. Beberapa pengakuan yang diterimanya antara lain:

  • CSR Indonesia Awards Kategori Pelestari Budaya (2022)
  • Duta Canon EOS M10 (2016)
  • Srikandi Fotografi Indonesia versi Canon Indonesia (2016-2018)
  • Nominator International Garuda Photo Contest (2012-2013)
  • Sajian Utama National Geographic Indonesia, edisi April 2021: “Jati Diri Terakhir”

Pameran fotonya juga telah diadakan, salah satunya pada tahun 2016 dalam acara Jagad Perempuan Bandung. Kini, Ati Bachtiar terus melangkah dengan semangat yang tak pernah padam untuk menjaga ingatan kolektif bangsa melalui karya-karyanya. Ia menganggap fotografi sebagai jalan hidup dan bentuk pengabdian yang akan terus berbicara meski lensa telah disimpan.