Menyusuri Jejak Budaya Melalui Lensa: Kisah Ati Bachtiar
Di dunia fotografi, setiap jepretan tidak hanya merekam momen, tetapi juga menyimpan kisah yang dalam, seperti yang ditunjukkan oleh Ati Bachtiar. Seorang fotografer yang menempuh perjalanan panjang dengan dedikasi dan cinta terhadap seni visual, Ati menjadi contoh bagaimana fotografi dapat merekam jiwa dan budaya.
Ati Bachtiar, yang lahir dengan nama Ruh Hayati pada 20 Januari 1969 di Bandung, adalah anak dari pasangan Atit Wasilah Maulany dan A. H. Widjajabrata, seorang perwira TNI AD. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Program Studi Bahasa Prancis Universitas Padjadjaran, dan lulus pada tahun 1995. Selain sebagai fotografer, Ati juga dikenal sebagai pelukis kaca dan pelestari budaya.
Perjalanan Ati dalam dunia fotografi dimulai setelah bertemu suaminya, Ray Bachtiar Dradjat, seorang fotografer senior dan pendiri RBS Studio serta Komunitas Lubang Jarum Indonesia. Keduanya dikaruniai dua anak, Tubagus Raka dan Ratu Adina Bachtiar. Dari Ray, Ati mulai mengenal fotografi yang kemudian menjadi panggilan hidupnya.
Kecintaan Terhadap Budaya
Kecintaan Ati terhadap keragaman budaya Indonesia membawanya ke pedalaman Kalimantan, di mana ia bertemu dengan perempuan Dayak yang mempertahankan tradisi telinga panjang. Pertemuan ini menjadi awal proyek etnofotografi yang dikenal sebagai karya khasnya. Ia telah menerbitkan beberapa buku yang mencerminkan perjalanan dan pengalamannya dalam mendokumentasikan budaya ini.
- Buku Pertama: Telinga Panjang: Mengungkap yang Tersembunyi (2016) yang memuat 43 foto perempuan Dayak dan simbol pergeseran zaman.
- Buku Kedua: Jejak Langkah Telinga Panjang (2019) yang memperluas dokumentasi ke wilayah pesisir Kalimantan dengan menampilkan 42 foto.
- Buku Ketiga: Melacak Jejak Telinga Panjang (2024) yang merekam 78 potret perempuan bertelinga panjang, mencerminkan generasi terakhir pewaris tradisi tersebut.
Perempuan Tangguh: Yeq Lawing
Salah satu sosok yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Ati adalah Yeq Lawing, seorang perempuan Dayak dari Suku Bahau Umaq Paloq. Mereka bertemu pada tahun 2016 di ladang tepi anak Sungai Mahakam, dan sejak itu hubungan mereka semakin erat. Yeq mengangkat Ati sebagai anak dan memberikan nama Dayak, Buaq. Yeq adalah generasi terakhir yang masih mempertahankan tradisi telinga panjang, meskipun modernisasi mengancam warisan budayanya.
Yeq dikenal sebagai sosok yang kuat dan anggun, yang berperan penting dalam masyarakat adatnya. Meskipun hidup dengan keterbatasan, ia memiliki kebiasaan menulis catatan harian. Kecerdasan dan keteguhan hati Yeq menjadi inspirasi bagi Ati, yang berencana untuk mengabadikan kisah hidupnya dalam bentuk buku biografi bergaya esai foto.
Pengakuan dan Pameran
Ati Bachtiar adalah fotografer profesional yang memiliki berbagai sertifikasi dan pengakuan, termasuk sebagai Certified Photographer dari BNSP dan asesor di beberapa bidang fotografi. Ia aktif di berbagai komunitas dan telah menerima sejumlah penghargaan atas dedikasinya dalam pelestarian budaya.
Pameran karya-karya Ati juga telah diadakan di berbagai tempat, termasuk pameran tunggal Telinga Panjang: Mengungkap yang Tersembunyi dan pameran mendatang Long Ears Through The Lens di Museum Sophiahof, Belanda.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Ati Bachtiar terus melangkah dengan kamera di tangan, berkomitmen untuk menjaga ingatan kolektif bangsa melalui karya-karyanya. Ia bukan hanya mengabadikan momen, tetapi juga menghidupkan kembali emosi dan cerita dalam setiap jepretan.




