Menghadapi Ancaman 'Angsa Hitam' dalam Pertahanan Nasional
Dalam sebuah seminar pertahanan nasional yang diselenggarakan di Pullman Hotel, Jakarta, Andi Widjajanto, seorang pakar pertahanan, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai fenomena yang dikenal sebagai 'Angsa Hitam'. Dalam seminar tersebut, ia bertanya, "Apakah kita siap menghadapi keadaan Angsa Hitam?" Pertanyaan ini menggambarkan ketidakpastian yang mengancam stabilitas global saat ini.
Dalam kesempatan itu, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga berbicara mengenai kemunduran lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan APEC, serta keraguan dalam menyelesaikan konflik di kawasan ASEAN tanpa bantuan negara besar seperti Amerika Serikat. SBY mengekspresikan rasa malu atas ketidakmampuan ASEAN dalam menangani konflik antar anggotanya, mengacu pada peristiwa kontak senjata antara Thailand dan Kamboja yang terjadi tahun lalu.
Andi Widjajanto, yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), menekankan bahwa jika fenomena Angsa Hitam ini merupakan gejala sementara, maka solusinya relatif mudah, yaitu menunggu hingga tahun 2029. Namun, ia juga memperingatkan bahwa potensi munculnya skenario Angsa Hitam tetap ada, terutama jika pemimpin baru yang terpilih tidak mampu menjamin stabilitas.
Istilah 'Angsa Hitam' sendiri berasal dari penemuan angsa hitam di Australia oleh para penjelajah Eropa pada abad ke-17, yang menggambarkan kejutan-kejutan dalam politik yang tidak terduga. Andi menjelaskan bahwa saat ini, stabilitas dunia seolah ditentukan oleh tiga pemimpin: Donald Trump, Xi Jinping, dan Vladimir Putin, yang masing-masing memiliki karakter dan kebijakan yang sulit diprediksi.
Dalam seminar tersebut, Andi juga menyampaikan empat skenario masa depan pertahanan, dengan skenario Angsa Hitam menjadi fokus utama diskusi. Ia tidak terlalu khawatir dengan ketidaknormalan yang ditampilkan oleh Donald Trump, karena sistem demokrasi di Amerika Serikat dilengkapi dengan mekanisme kontrol. Namun, perhatian utama, menurutnya, harus tertuju pada Vladimir Putin yang memiliki kekuasaan mutlak di Rusia dan senjata nuklir.
Di akhir seminar, Andi menunjukkan bahwa ketidakpastian global saat ini, termasuk dalam konteks konflik di Gaza, menunjukkan bahwa lembaga-lembaga internasional seperti PBB tidak lagi dapat berfungsi dengan efektif. SBY menambahkan bahwa kondisi di Gaza adalah contoh nyata dari kelemahan tersebut, di mana PBB tidak mampu berbuat banyak.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, para peserta seminar, termasuk mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan), diharapkan dapat merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi ancaman Angsa Hitam dan menjaga stabilitas nasional serta regional.




