Menggali Sejarah Perempuan Penyintas 1965 Melalui Buku 'Otina dan Nanga-Nanga'
Sumber Foto: Konde.co
Catatan Harian

Menggali Sejarah Perempuan Penyintas 1965 Melalui Buku 'Otina dan Nanga-Nanga'

Magdalena Sitorus, seorang aktivis perempuan, telah menjadi suara penting dalam menggali dan mendokumentasikan sejarah perempuan penyintas peristiwa 1965 di Indonesia. Karya-karyanya, termasuk buku terbarunya yang berjudul Otina dan Nanga-Nanga, menghadirkan perspektif yang jarang diangkat dalam pendidikan formal. Buku ini tidak hanya mengisahkan pengalaman Rukiah, seorang perempuan korban peristiwa politik, tetapi juga menyoroti pengalaman perempuan penyintas yang sering terabaikan dalam narasi sejarah.

Perempuan Penyintas yang Terabaikan

Dalam Otina dan Nanga-Nanga, Magdalena menceritakan kisah Rukiah, Sekretaris Gerwani termuda di Sulawesi Tenggara, yang berjuang untuk hak-hak perempuan sebelum akhirnya diasosiasikan dengan stigma negatif dan diasingkan ke daerah yang dikenal sebagai Nanga-Nanga. Buku ini menampilkan kompleksitas pengalaman Rukiah dan bagaimana pengasingannya berdampak pada kehidupan pribadinya dan keluarganya.

Pentingnya Menggali Sejarah dari Bawah

Magdalena menegaskan pentingnya untuk menggali sejarah dari perspektif perempuan yang tidak pernah diangkat ke permukaan. Dalam diskusi mengenai bukunya, ia menyebut bahwa meskipun sejarah seringkali ditulis oleh pihak yang berkuasa, pengalaman penyintas harus diakui dan dipahami. "Saya ingin menuliskan tuturan langsung dari penyintas itu sendiri," ujarnya.

Stigma dan Diskriminasi yang Terus Berlanjut

Buku ini juga mengungkapkan dampak berkelanjutan dari stigma yang dialami oleh generasi penerus Rukiah. Anak-anak dan cucu-cucu penyintas menghadapi diskriminasi dalam pendidikan dan pekerjaan akibat label negatif yang disematkan pada keluarga mereka. Magdalena menyatakan bahwa banyak dari mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan formal dan terpaksa bekerja di sektor informal sebagai tukang.

Proses Penulisan yang Penuh Tantangan

Proses penulisan Otina dan Nanga-Nanga tidaklah mudah. Rukiah awalnya skeptis untuk membagikan kisahnya karena ketakutan akan dampak negatif dari pemerintah. Magdalena harus membangun kepercayaan dengan menjelaskan bahwa ia tidak memiliki afiliasi atau sokongan dana dari pihak manapun, serta berjanji untuk membagikan draf tulisan untuk koreksi. Akhirnya, Rukiah setuju untuk kisahnya dituangkan dalam buku.

Pentingnya Memorialisasi Sejarah

Seiring dengan modernisasi, banyak situs sejarah yang hilang atau diabaikan. Magdalena menyoroti pentingnya memorialisasi untuk mengingat tempat-tempat seperti Nanga-Nanga dan Bukit Duri yang pernah menjadi saksi bisu peristiwa kelam. Dia berharap agar ada perhatian dari pemerintah untuk menghapus stigma dan menciptakan ruang bagi pengakuan dan keadilan bagi para penyintas.

Menjalin Harapan untuk Generasi Mendatang

Melalui karya-karyanya, Magdalena Sitorus berupaya memberikan suara bagi mereka yang terpinggirkan dan mengajak generasi muda untuk memahami sejarah yang sebenarnya. Ia berharap bahwa dengan memahami peristiwa 1965, stigma yang ada dapat dihapuskan dan keadilan bagi para penyintas dapat tercapai.