Kritik Terhadap Optimisme Menteri ESDM di Tengah Krisis Energi Global
Sumber Foto: Faktabanten.co.id
Internasional

Kritik Terhadap Optimisme Menteri ESDM di Tengah Krisis Energi Global

Jurnal News -

Login

Kamis, 21 Mei 2026

About

Iklan

Redaksi

Kontak Kami

Disclaimer

+ Indeks

Pedoman Media Ciber

HOME

BANTEN

EKBIS

BUDAYA

INTERNASIONAL

HUKUM

KESEHATAN

NASIONAL

KOMUNITAS

AL KHAIRIYAH

Home

OPINI

Bahlil Terlalu Meremehkan Krisis Energi Global

OPINI

Bahlil Terlalu Meremehkan Krisis Energi Global

Oleh Redaksi Pada 6 Mar 2026

Bagikan

Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut impor BBM Indonesia dari Singapura tidak akan terganggu meskipun terjadi gejolak di Timur Tengah patut dipertanyakan.

Jika dilihat dari realitas pasar energi global saat ini, optimisme tersebut justru terlihat terlalu percaya diri bahkan cenderung meremehkan krisis yang sedang dan akan terjadi.

Baca Juga

Kantongi Uang Taktis Rp2 Miliar, 6 Pejabat BPN Kota Serang Ditahan Kejaksaan Kasus Dugaan Gratifikasi

Ketua Komisi V DPRD Banten: Kepala Sekolah Plt Harus Segera Definitif Sebelum SPMB 2026 Dimulai

Krisis energi yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz telah mengguncang rantai pasokan minyak dunia. Jalur sempit di Teluk Persia itu selama ini menjadi salah satu jalur pengiriman energi paling vital di dunia, dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak global.

Ketika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Barat, tetapi juga seluruh Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah.

Situasi ini membuat banyak negara di Asia berlomba mencari sumber pasokan alternatif. Beberapa laporan bahkan menunjukkan bahwa kilang-kilang minyak di kawasan Asia mulai kesulitan mendapatkan minyak mentah pengganti dan terpaksa menyesuaikan produksinya.

Baca Juga

Situ Bulakan Tangerang Dinormalisasi, Kapasitas Tampung Air Ditargetkan Naik Dua Kali Lipat

Bapenda Banten Update Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, Capai Rp718 Miliar

Artinya, kompetisi mendapatkan energi di kawasan ini justru semakin ketat.

Dalam konteks seperti ini, asumsi bahwa Indonesia dapat dengan mudah mendapatkan BBM dari negara tetangga menjadi problematis.

Singapura, yang sering disebut sebagai pemasok utama BBM bagi Indonesia, bukanlah produsen minyak besar. Negara tersebut lebih dikenal sebagai pusat pengolahan dan perdagangan minyak.

Baca Juga

Kemenhaj: 100.268 Jemaah Telah Selesaikan Dam, Jemaah Diimbau Gunakan Jalur Resmi

Tinjau Rehabilitasi SDN Kebon Sawah Luhur, Anggota DPRD Kota Serang Bilal Usulkan Pagar Sekolah dan Rambu Penyeberangan

Jika pasokan minyak mentah global terganggu, maka kilang-kilang di Singapura juga akan menghadapi keterbatasan bahan baku. Konsekuensinya, ekspor BBM dari negara tersebut juga tidak bisa diasumsikan selalu stabil.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Ketika terjadi gangguan pasokan global, negara-negara dengan daya beli lebih kuat seperti Jepang, Korea Selatan, atau China cenderung memiliki posisi tawar lebih besar di pasar energi.

Dalam situasi seperti ini, negara yang bergantung pada impor seperti Indonesia justru berada pada posisi yang lebih rentan.

Baca Juga

Imigrasi yang Berdaulat: Menjaga Gerbang, Mengelola Peradaban

Revolusi Pemikiran Menuju Kejayaan Maritim Nusantara

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan jika melihat cadangan energi nasional yang relatif terbatas. Cadangan BBM Indonesia selama ini diketahui hanya cukup untuk sekitar tiga minggu konsumsi normal.

Ketergantungan pada impor dengan cadangan yang tipis membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gangguan distribusi global.

Karena itu, pernyataan yang terlalu menenangkan justru berisiko menciptakan rasa aman yang semu. Dalam situasi krisis energi global, yang dibutuhkan bukanlah optimisme berlebihan, melainkan kesiapan menghadapi skenario terburuk.

Pemerintah seharusnya lebih terbuka mengenai potensi risiko dan mulai menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Kebijakan pengendalian konsumsi, penguatan cadangan energi strategis, hingga percepatan diversifikasi energi perlu dipertimbangkan secara serius.

Tanpa langkah-langkah tersebut, keyakinan bahwa pasokan energi akan tetap aman bisa berubah menjadi masalah besar jika krisis benar-benar memburuk. ***

Bagikan Facebook Twitter Facebook Messenger Telegram

Redaksi 20477 posts 0 comments

Prev Post

Memaknai Malam Nuzulul Qur’an: Momentum Mahasiswa Meningkatkan Keimanan di Bulan Ramadan

Next Post

Indonesia Power UBP Suralaya Cilegon Perkuat Kemitraan Pers Lewat Buka Puasa Bersama

Berita Terkait DARI PERNULIS

SERANG

Kantongi Uang Taktis Rp2 Miliar, 6 Pejabat BPN Kota Serang Ditahan Kejaksaan Kasus Dugaan Gratifikasi

BANTEN

Ketua Komisi V DPRD Banten: Kepala Sekolah Plt Harus Segera Definitif Sebelum SPMB 2026 Dimulai

TANGERANG

Situ Bulakan Tangerang Dinormalisasi, Kapasitas Tampung Air Ditargetkan Naik Dua Kali Lipat

Prev Next

Berita Terbaru

SERANG

Kantongi Uang Taktis Rp2 Miliar, 6 Pejabat BPN Kota Serang Ditahan Kejaksaan Kasus…

Ajo 20 Mei 2026 0

SERANG –Enam pejabat Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Serang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus…

Ketua Komisi V DPRD Banten: Kepala Sekolah Plt Harus Segera Definitif…

20 Mei 2026

Situ Bulakan Tangerang Dinormalisasi, Kapasitas Tampung Air…

20 Mei 2026

Bapenda Banten Update Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, Capai Rp718…

20 Mei 2026

Prev Next 1 dari 14,562

Foto Flickr

OPINI

OPINI

Obat di Minimarket: Kemudahan Semu, Taruhan Nyawa Generasi Emas

Redaksi 19 Mei 2026 0

OPINI

Kampus Bukan Pabrik Ijazah

OPINI

Meneguhkan Pendidikan Bermutu di Pinggiran Negeri

OPINI

Bukti Nyata Kemendikdasmen Hadir di Daerah yang Selama Ini Terlupakan

OPINI

Kritik Fiqh Terhadap Kebijakan Penyembelihan Dan Pembagian Dam Di Luar…

Prev Next 1 dari 197

Google+

Foto Flickr

About

Iklan

Redaksi

Kontak Kami

Disclaimer

+ Indeks

Pedoman Media Ciber

© 2020 - Fakta Banten Online

Website Design: Fakta Banten Online IT Support