Krisis Memori Global Terancam Bangkrutkan Produsen Elektronik hingga 2030
Sumber Foto: Mureks
Internasional

Krisis Memori Global Terancam Bangkrutkan Produsen Elektronik hingga 2030

Industri teknologi dunia tengah menghadapi ancaman serius berupa krisis memori global yang diperkirakan akan memuncak pada akhir tahun 2026. Situasi ini berpotensi menyebabkan banyak produsen elektronik konsumen bangkrut atau terpaksa menghentikan lini produk tertentu. Fenomena ini dipicu oleh lonjakan permintaan memori yang masif dari sektor kecerdasan buatan (AI).

CEO Phison Electronics, Pua Khein-Seng, pada Jumat, 20 Februari 2026, memperingatkan bahwa kelangkaan pasokan komponen akan memukul vendor sistem secara telak. Menurut Pua, produksi ponsel pintar global berpotensi menyusut antara 200 hingga 250 juta unit dalam waktu dekat. Tidak hanya ponsel, manufaktur komputer pribadi (PC) dan televisi juga diproyeksikan akan mengalami penurunan volume produksi yang signifikan.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Dampak GPU AI Generasi Terbaru dan Skema Pembayaran Memberatkan

Kondisi krisis memori global semakin diperparah dengan masuknya GPU AI generasi terbaru, seperti seri Rubin dari Nvidia. Satu unit GPU tersebut membutuhkan kapasitas penyimpanan SSD lebih dari 20 TB untuk beroperasi secara optimal. Catatan Mureks menunjukkan, jika Nvidia mengirimkan puluhan juta unit, sekitar 20 persen kapasitas produksi NAND global tahun lalu akan terserap sepenuhnya oleh kebutuhan ini.

Tekanan pasar yang kompetitif juga memaksa produsen memori menerapkan kebijakan pembayaran di muka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka kini menuntut pembayaran hingga tiga tahun di muka kepada para vendor. Kebijakan ini memberikan tekanan finansial yang sangat berat, terutama bagi produsen elektronik skala kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan modal.

Proyeksi Jangka Panjang dan Pergeseran Prioritas Industri

Meskipun raksasa industri seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron telah berinvestasi besar pada kapasitas produksi baru, realisasi penambahan pasokan ini membutuhkan waktu minimal dua tahun. Sementara itu, kontribusi kapasitas produksi dari China saat ini masih sangat minim, hanya mencapai 3 hingga 5 persen. Angka tersebut jauh dari cukup untuk menutup defisit pasokan global yang berada di kisaran 10 hingga 20 persen.

Akibat situasi ini, industri mulai mengalihkan prioritas produksi dari perangkat konsumen ke perangkat komersial berdaya komputasi tinggi, seperti server dan akselerator kecerdasan buatan. Oleh karena itu, tantangan akibat krisis memori global ini diprediksi akan berlangsung hingga tahun 2030 atau bahkan satu dekade mendatang. Para pelaku industri dituntut untuk segera beradaptasi dengan pergeseran peta produksi yang mengutamakan kebutuhan AI.