Krisis Memori Global Ancam Penjualan Ponsel Turun 160 Juta Unit
Sumber Foto: VOI.id
Internasional

Krisis Memori Global Ancam Penjualan Ponsel Turun 160 Juta Unit

JAKARTA – Dunia kini tengah menghadapi krisis memori karena permintaan Kecerdasan Buatan (AI) yang semakin melonjak. Krisis ini berdampak langsung pada smartphone yang ikut mengandalkan memori.

Melihat situasi ini, perusahaan riset global IDC memperkirakan bahwa angka penjualan di tahun ini akan berkurang hingga 160 juta unit dibandingkan dengan tahun lalu. Penurunan pengiriman ponsel ini akan mencapai 13 persen.

Jika perkiraan ini tepat, ini akan menjadi tahun pertama industri ponsel mengalami penurunan penjualan sejak masa pandemi. Padahal, industri susah membaik dengan angka penjualan yang terus meningkat hingga tahun lalu.

Kelangkaan komponen RAM pun dianggap lebih parah dibandingkan tantangan logistik saat era COVID-19. Para ahli menyebut situasi ini sebagai pergeseran seismik yang akan mengubah industri seluler.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, melansir dari Bloomberg, menyatakan bahwa ketersediaan komponen tidak akan membaik dalam waktu dekat. Harga memori diperkirakan akan mulai stabil paling cepat pada pertengahan 2027.

Dampak terbesar dari krisis ini akan sangat terasa pada ponsel kelas bawah atau entry-level. Perangkat premium akan berada di posisi yang lebih aman dibandingkan ponsel entry-level karena memiliki ruang margin keuntungan yang lebih luas.

Melihat situasi ini, Popal pun mengatakan bahwa era ponsel pintar murah kemungkinan besar sudah berakhir untuk selamanya. Kategori perangkat dengan harga di bawah 100 dolar AS (Rp1,6 juta) bahkan berpotensi hilang dari pasar.

Kenaikan harga mulai terlihat pada lini produk terbaru Samsung, yakni seri Galaxy S26. Harga perangkat kelas atas itu naik lebih dari Rp14 juta. Konsumen kini harus membayar lebih mahal untuk spesifikasi yang hampir identik dengan model sebelumnya.