Kekacauan Global Akibat Krisis Timur Tengah: Rantai Pasokan Energi Terganggu dan Penerbangan Dibatalkan
Sumber Foto: Kabarnusantara.id
Internasional

Kekacauan Global Akibat Krisis Timur Tengah: Rantai Pasokan Energi Terganggu dan Penerbangan Dibatalkan

Jakarta – Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, telah memicu kekacauan global yang signifikan. Dampaknya terasa luas, mulai dari terganggunya rantai pasokan energi hingga pembatalan massal penerbangan, menciptakan ketidakpastian dan kerugian di berbagai sektor.

Salah satu dampak paling signifikan adalah terhambatnya pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG). Iran, sebagai respons terhadap serangan tersebut, dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Akibatnya, kapal-kapal tanker pengangkut energi menumpuk di dekat pelabuhan-pelabuhan besar seperti Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA), tidak dapat melanjutkan perjalanan mereka melalui selat tersebut.

Menurut seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar, kapal-kapal mereka terpaksa tertahan selama beberapa hari. Informasi dari pelacak kapal tanker juga mengkonfirmasi adanya penumpukan kapal yang signifikan di wilayah tersebut.

Situasi semakin diperburuk dengan adanya transmisi VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz. Meskipun Angkatan Laut Inggris menyatakan bahwa perintah tersebut tidak mengikat secara hukum dan menyarankan kapal untuk melintas dengan hati-hati, banyak perusahaan pelayaran memilih untuk berhati-hati, mengingat risiko yang ada.

Seorang pejabat dari misi angkatan laut Uni Eropa Aspides juga mengamini pernyataan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz. Sementara itu, asosiasi kapal tanker INTERTANKO melaporkan bahwa Angkatan Laut AS telah mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal menghindari seluruh wilayah Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz, karena tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran.

Kementerian pelayaran Yunani juga mengeluarkan imbauan serupa, menyarankan kapal-kapal untuk menghindari wilayah-wilayah tersebut. Perlu diingat bahwa sekitar 20% minyak global dari produsen seperti Arab Saudi, UEA, Irak, Kuwait, dan Iran melewati Selat Hormuz, serta sejumlah besar LNG dari Qatar. Penutupan atau gangguan signifikan pada jalur pelayaran ini dapat memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu stabilitas ekonomi.

Data menunjukkan bahwa sebanyak 14 kapal tanker LNG telah menunjukkan tanda-tanda melambat, berbalik arah, atau berhenti di dalam atau di sekitar Selat Hormuz. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, menimbulkan risiko serius bagi ekspor LNG Qatar, salah satu produsen dan eksportir LNG terbesar di dunia.

Selain dampak pada rantai pasokan energi, krisis di Timur Tengah juga telah menyebabkan pembatalan massal penerbangan. Maskapai penerbangan dari seluruh dunia ramai-ramai membatalkan penerbangan ke dan dari Timur Tengah, menciptakan gangguan penerbangan global paling parah dalam beberapa tahun terakhir.

Ruang udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, dan Bahrain dilaporkan hampir kosong pada hari Sabtu (28/2), menurut peta dari layanan pelacakan penerbangan Flightradar24. Regulator penerbangan Uni Eropa merekomendasikan agar maskapai penerbangannya menghindari wilayah udara yang terkena dampak intervensi militer tersebut.

Analis Penerbangan yang berbasis di Inggris, John Strickland, memperkirakan bahwa akan ada ratusan ribu orang yang terjebak di berbagai belahan dunia tanpa kepastian kapan mereka dapat melanjutkan perjalanan.

Maskapai penerbangan terbesar Yunani, Aegean Airlines, telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Tel Aviv di Israel, Beirut di Lebanon, dan Erbil di Irak hingga 2 Maret 2026. Maskapai penerbangan Kazakhstan juga membatalkan semua penerbangan ke Timur Tengah hingga 3 Maret 2026.

Air Europa, maskapai penerbangan Spanyol, membatalkan penerbangannya ke Tel Aviv sampai Senin (2/3) dan sedang memantau situasi untuk kemungkinan beroperasi mulai Selasa (3/3). Air India juga membatalkan penerbangan yang dijadwalkan untuk hari ini dari Delhi, Mumbai, dan Amritsar ke London, New York, Chicago, Toronto, Frankfurt, dan Paris.

Azerbaijan Airlines juga telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Dubai, Doha, Jeddah, dan Tel Aviv. British Airways pun telah membatalkan penerbangan ke Tel Aviv, Bahrain, dan Amman hingga 3 Maret 2026.

Cathay Group Hong Kong, induk dari Cathay Pacific Airways, menangguhkan operasi di wilayah tersebut, memengaruhi penerbangan penumpang ke dan dari Dubai dan Riyadh, serta layanan kargo di bandara Al Maktoum. Bandara tersebut merupakan bandara kedua Dubai setelah Bandara Internasional Dubai, hub utama yang menangani sebagian besar lalu lintas penumpang.

Emirates Kuwait juga mengumumkan penangguhan sementara operasi ke dan dari Dubai, dengan alasan bahwa penerbangan terpengaruh oleh penutupan wilayah udara Irak, Iran, dan Israel.

Krisis di Timur Tengah ini menyoroti betapa rentannya rantai pasokan global terhadap ketidakstabilan geopolitik. Dampaknya tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut, tetapi juga dirasakan di seluruh dunia, memengaruhi harga energi, perjalanan udara, dan berbagai sektor ekonomi lainnya. Situasi ini memerlukan respons yang terkoordinasi dari pemerintah, organisasi internasional, dan pelaku industri untuk memitigasi dampak negatif dan mencegah eskalasi lebih lanjut.

Masa depan masih belum pasti, tetapi satu hal yang jelas: krisis di Timur Tengah telah menciptakan gelombang kejut yang akan terus terasa dalam beberapa bulan mendatang.