Jejak Nasionalisme dalam Harian Empat Lima di Era Orde Baru
Sumber Foto: BandungBergerak.id
Catatan Harian

Jejak Nasionalisme dalam Harian Empat Lima di Era Orde Baru

Di balik lembaran koran lawas, tersimpan jejak zaman yang berbicara lebih lantang daripada sekadar berita. Salah satu contoh nyata adalah Harian Empat Lima, sebuah surat kabar yang terbit pada era Orde Baru, yang mengusung semangat nasionalisme '45 ke ruang redaksi, menjadikannya denyut moral di tengah gempuran jargon pembangunan.

Membaca kembali edisi Harian Empat Lima pada Kamis, 21 Agustus 1975, seolah menghirup aroma kertas yang baru keluar dari mesin cetak. Judul besar, foto hitam-putih, serta iklan dengan harga yang kini terasa murah, membawa pembaca kembali ke masa ketika surat kabar menjadi salah satu nadi bangsa.

Maladi di Pucuk Pimpinan

Sosok R. Maladi tercatat sebagai Pemimpin Umum, yang lebih dulu dikenal sebagai pesepak bola nasional, Ketua Umum PSSI, Menteri Penerangan, dan Menteri Olahraga. Kehadirannya di Harian Empat Lima menegaskan keyakinan bahwa perjuangan bisa terus dilanjutkan, termasuk melalui media cetak.

Di samping Maladi, ada Soegeng sebagai Pemimpin Redaksi merangkap Penanggung Jawab. Dewan Redaksi juga diisi oleh Drs. Manunggal, A. D. Donggo, Kosasih Kamil, dan Achirman. Kantor redaksi beralamat di Jalan K. H. Wahid Hasyim No. 85, Jakarta, dan dikelola oleh PT Ripres Utama yang menangani percetakannya.

Membaca Edisi 21 Agustus 1975

Tajuk utama di edisi tersebut berbunyi: “Berdasar Atas Demokrasi Ekonomi & Kekeluargaan.” Laporan dari Yogyakarta menekankan bahwa sistem sosial-ekonomi Indonesia tidak meniru kapitalisme atau sosialisme, melainkan berlandaskan ekonomi kekeluargaan yang diusung oleh Pancasila.

Di halaman yang sama, terdapat foto Presiden Soeharto bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX saat membuka pameran industri kerajinan rakyat. Berita-berita lain khas Orde Baru juga memenuhi halaman, seperti tentang penyuluhan penanganan penyelundupan, pembangunan pariwisata, dan pertemuan pejuang ’45. Terdapat pula laporan mengenai kapal Taiwan yang kedapatan mencuri ikan di perairan Indonesia.

Dengan membaca ulang koran ini, terlihat jelas bahwa Harian Empat Lima ingin menampilkan diri sebagai koran nasionalis yang mendukung pembangunan sekaligus merekam aktivitas negara.

Dari Stadion ke Redaksi

Maladi dikenal sebagai sosok yang rela mengurus penerbitan koran, menjadikan pers bagian dari jejak hidupnya. Ia pernah mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956 dan ikut melahirkan Asian Games 1962 di Jakarta. Ketika menjalani masa itu, ia memilih media cetak sebagai arena baru perjuangannya, tetap setia pada satu tujuan: Indonesia.

Hampir setengah abad sejak edisi tersebut terbit, Harian Empat Lima kini hanya tersisa di arsip dan koleksi para penggemar media lawas. Namun, kehadirannya mengingatkan bahwa pers Indonesia pernah diwarnai idealisme nasionalisme yang kuat, meski berada di bawah pengaruh kontrol politik.

Maladi, yang dikenal sebagai pemain bola, menteri, seniman, dan pemimpin koran, menunjukkan bahwa semangat perjuangan bisa hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui lembaran kertas yang diantarkan oleh loper setiap pagi kepada pembaca.

Membuka arsip Harian Empat Lima bukan hanya sekadar menengok berita lama, melainkan juga menyimak denyut zaman ketika nasionalisme dipupuk melalui media cetak. Dengan Maladi di pucuk pimpinan, harian ini menjadi salah satu buktinya bahwa pers pernah berada di garis depan perjuangan moral bangsa.

Walaupun Harian Empat Lima telah lama berhenti terbit, semangat yang ditinggalkannya tetap hidup dalam ingatan. Dari tangan Maladi dan para redakturnya, kita belajar bahwa pers bukan hanya soal menyampaikan berita, tetapi juga menjaga semangat bangsa. Sebuah warisan berharga yang patut dikenang, agar perjuangan itu tidak pernah pudar.