Buku Harian dan Jejak Digital Pelaku Ungkap Motif Pengeboman di Jakarta
Jakarta - Seorang pelajar berusia 17 tahun yang diduga melakukan serangan bom di masjid sekolahnya di Jakarta diketahui menyimpan catatan perasaan terasing dan terisolasi dalam sebuah buku harian setebal 42 halaman. Temuan ini diungkap oleh pihak kepolisian setelah insiden ledakan yang terjadi pada awal November, yang mengakibatkan 96 jemaah terluka saat hendak melaksanakan salat Jumat.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Juru Bicara Polda Metro Jaya, Ronald Simajuntak, pelajar tersebut terpapar konten ekstrem dari sebuah grup Telegram internasional yang mengandung glorifikasi kekerasan dan supremasi kulit putih. Dari penelusuran riwayat internet dan penggerebekan di rumahnya, diketahui bahwa pelajar ini bertindak sendiri tanpa terhubung dengan kelompok ekstrem tertentu di Indonesia.
Ronald menambahkan bahwa pelajar itu memiliki sikap tertutup dan diduga mengalami kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Dia diketahui menyimpan banyak masalah tanpa mampu mengungkapkannya kepada orang lain.
Pihak kepolisian menemukan bahwa remaja ini telah merakit tujuh bom di rumahnya dengan mengikuti panduan dari video di YouTube. Bahan-bahan yang digunakan, seperti kalium klorat dan paku, diperoleh melalui pasar daring. Dari tujuh bom yang dibuat, empat di antaranya meledak, sementara tiga lainnya gagal berfungsi. Pihak berwenang berencana untuk mengevaluasi pengawasan terhadap penjualan bahan-bahan berisiko tersebut.
Remaja tersebut juga diketahui bergabung dengan saluran Telegram yang memuat materi kekerasan serta diskusi mengenai serangan internasional, termasuk penembakan di Masjid Christchurch pada tahun 2019 dan insiden di SMA Columbine pada tahun 1999. Pihak Telegram menyatakan bahwa layanan mereka melarang promosi kekerasan dan menggunakan moderator serta sistem kecerdasan buatan untuk menghapus jutaan konten berbahaya setiap hari.
Sementara itu, Google, sebagai pemilik YouTube, belum memberikan tanggapan terkait temuan yang dirilis oleh pihak kepolisian. Dalam penggerebekan, polisi menemukan sebuah buku catatan berjudul 'Diari Rap' yang berisi tulisan dalam bahasa Inggris mengenai trauma masa lalu serta keinginan untuk mengakhiri hidup dengan menyakiti orang lain.
Menurut kerabatnya, Rudianti, pelajar tersebut berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, di mana ayahnya bekerja sebagai juru masak di sebuah perusahaan katering. Remaja ini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar dengan laptop, tanpa diketahui aktivitas daringnya oleh keluarganya.
Pelaku kini dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil setelah mengalami luka akibat salah satu bom rakitan yang tidak meledak dengan sempurna. Polisi berencana untuk melakukan pemeriksaan setelah kondisi pelaku membaik. Sebelum dakwaan resmi diajukan, pihak pembebasan bersyarat dan masa percobaan negara akan menilai kelayakannya untuk diadili dan menentukan proses hukum yang sesuai.




