BRI: Industri Perbankan Solid, Namun Permintaan Kredit Masih Terhambat
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Hery Gunardi (kanan) dan Pejabat sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, di sela acara Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada Kamis (19/2/2026). Foto: Dokumen BRI
Share on Facebook Share on Twitter
INDOPOSCO.ID – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi, mengatakan industri perbankan nasional masih memiliki fundamental yang solid dengan likuiditas dan permodalan yang memadai untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan.
Namun, akselerasi penyaluran kredit saat ini terhambat dari sisi permintaan (demand) akibat sikap wait and see dunia usaha dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, menurut Hery, saat acara Economic Outlook 2026 yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Kamis (19/2/2026).
Baca Juga:
Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’
DPR Sebut Kekerasan di Daycare Yogyakarta Bukti Lemahnya Pengawasan Negara
Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan Jadi Nyata
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat 11,4 persen year on year (YoY), Loan-to-Deposit Ratio (LDR) di 84 persen, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) industri tetap kuat di level 26 persen, jauh di atas ambang batas regulator. Meski likuiditas tersedia, realisasi kredit tertahan karena kehati-hatian nasabah individu dan dunia usaha.
Data Bank Indonesia menunjukkan penurunan permintaan kredit baru di hampir semua segmen, termasuk kredit konsumsi dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen dan segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari 78,4 persen menjadi 58,8 persen, dengan undisbursed loan rata-rata naik menjadi 10,22 persen.
Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM meningkat sejak Desember 2024, menunjukkan arus kas pelaku usaha kecil belum pulih, sehingga perbankan perlu pendekatan selektif berbasis mitigasi risiko. Perlambatan juga dipengaruhi melemahnya sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian yang menjadi penyumbang utama produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.
Moderasi kredit bukan semata karena likuiditas. Hery menekankan perlunya diversifikasi pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi untuk mengurangi sensitivitas terhadap siklus ekonomi. Meski pemerintah telah menyalurkan Rp200 triliun likuiditas tambahan, akselerasi kredit bergantung pada keyakinan pelaku usaha.
Hery menambahkan kebijakan fiskal dan moneter saat ini pro-growth, namun optimisme belum sepenuhnya tercermin dalam percepatan ekspansi riil. Fokus ke depan perlu bergeser dari narasi optimisme ke akselerasi implementasi yang dirasakan dunia usaha.
Perbankan, khususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) termasuk BRI, tetap mendukung program strategis nasional seperti Program Makan Bergizi Gratis, Program 3 Juta Rumah, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program ini diharapkan mendorong pertumbuhan kredit, penghimpunan DPK, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat. (adv)
Tags: BBRI bri kinerja keuangan kredit perbankan Makro Ekonomi OJK
Berita Terkait.
Nasional
Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’
Senin, 27 April 2026 - 21:30
Nasional
DPR Sebut Kekerasan di Daycare Yogyakarta Bukti Lemahnya Pengawasan Negara
Senin, 27 April 2026 - 19:41
Nasional
Ber-Qurban bersama BRImo: Cukup dalam Genggaman, Kebaikan Jadi Nyata
Senin, 27 April 2026 - 18:04
Nasional
Melalui Kampung Silat Jampang Dompet Dhuafa, Ratusan Pesilat Hadiri Lebaran Jawara Perkuat Budaya dan Jatidiri Bangsa
Senin, 27 April 2026 - 15:05
Nasional
Regulasi Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu Digagas, Pengamat Pertanyakan Implementasinya
Senin, 27 April 2026 - 14:44
Nasional
KSP Qodari Soal Isu Reshuffle: Kita Tunggu Saja
Senin, 27 April 2026 - 14:04




