Bedah Buku Kembara Pikiran Karya Pater Fritz Meko: Refleksi Kehidupan Seorang Imam Katolik
Pengenalan Buku
Buku "Kembara Pikiran" karya Pater Fritz Meko, seorang imam Katolik asal Kefamenanu, dibagi menjadi tiga bagian yang menggambarkan perjalanan hidup dan refleksi spiritualnya. Dalam acara bedah buku, Pater Fritz mengungkapkan bahwa hidup ini dimiliki oleh Tuhan, yang menjadi tema sentral dalam karyanya.
Struktur Buku
Bagian pertama buku ini berjudul "Menapaki Bumi", yang berisi 180 catatan refleksi. Melalui catatan ini, Pater Fritz menyajikan warna-warni kehidupan sehari-harinya sebagai pastor. Ia menceritakan berbagai pengalaman, seperti pertemuan dengan tukang becak yang tersenyum meski mengalami luka di kakinya, serta seorang ibu yang menangis diam-diam saat anaknya lulus sekolah. Semua kisah ini menjadi bagian dari doa dan refleksi spiritual sang pastor.
Bagian kedua, yang berjudul "Menatap Langit", mencakup 63 catatan personal. Pater Fritz menggambarkan hidup sebagai peziarahan panjang dari kandungan ibu menuju kandungan bumi. Ia menandai setiap tahapan kehidupan — bayi, anak, remaja, dewasa, dan tua — sebagai stasiun-stasiun yang memiliki pesan berharga. Pesan-pesan ini sering kali terabaikan karena kesibukan kita sehari-hari.
Di bagian ketiga, "Wahyu Ilahi", Pater Fritz menulis 89 puisi dan prosa dengan menggunakan bahasa sastra sebagai alat ekspresi. Ia mengacu pada pemikiran Ralph Waldo Emerson yang menyatakan bahwa puisi dapat mengajarkan banyak hal dengan kata-kata yang sedikit.
Respon Narasumber
Acara bedah buku ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Dr. RD. Aloysius Widayawan Louis, Dr. Wayan Maryanta SVD, Narudin Pituin, dan Sr. Dr. Vero Endah Wulandari. Narudin Pituin menyoroti bahwa buku ini bukanlah buku teologi, melainkan buku kehidupan. Ia menyatakan bahwa tulisan Pater Fritz, yang berlatarkan seorang sastrawan, menjadi lebih menyentuh karena pendekatan tersebut.
Sr. Vero juga menyampaikan perasaannya setelah membaca puisi dan prosa dalam buku tersebut, mengungkapkan bahwa ia merasakan kehadiran Tuhan yang halus dan tidak menggemborkan, tetapi sangat dirasakan dalam keseluruhan karya ini.




